ANALISIS SEJARAH PENDIDIKAN PADA MASA RASULULLAH SAW DAN KHULAFA AL-RASYIDIN

https://jurnal.stainwsamawa.ac.id/index.php/al-bay

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

 

Konsep merupakan sebuah ide yang secara umum dan tersusun dengan rapi yang kemudian di terapkan dengan terencana di dalam kehidupan nyata. Dalam hal ini konsep adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan karena apabila tanpa sebuah konsep maka pendidikan tersebut tidak bisa berjalan dengan baik sesuai dengan apa yang diinginkan oleh karena itu sebuah pendidikan terutama pendidikan agama islam maka harus mempunyai konsep yang baik.

            Pendidikan merupakan sebuah humanisasi, yang dimana merupakan upaya-upaya dalam memanusiakan manusia atau bisa juga disebut sebagai upaya dalam membantu manusia agar dapat mewujudkan diri sesuai sesuai bagaimana martabatnya manusia kemudian menyadarkan manusia dengan kedudukan mereka yang sangat mulia jika di bandingkan dengan makhluk-makhluk Allah yang lainnya. Oleh karena itu seorang pendidik harus mengetahui hakikat manusia yang sebenarnya. Seringkali permasalahan tentang pendidikan bermula dari ketidak pahaman serta kurangnya pengertian dengan korelasi antara hakikatnya manusia dengan baik dalam sebuah keadaan aktualitasnya, posibilitas nya serta idealitasnya.

            Manusia sangat dituntut untuk mempunyai kesiapan serta kemampuan dalam upaya adaptasi dengan sebuah nilai-nilai yang barus ada, kemudian kreatifitas dalam melakukan sebauh upaya inovasi dan juga daya saing dalam menetapkan keeksistensinya dalam membentuk proses pendidikan. Daripada itu dengan sendirinya jika kita membicarakan sebuah konsep pendidikan maka tidaklah terlepas dari sebuah penggambaran tentang sosok-sosok yang idealnya manusia atau  bisa disebut dengan Insan Kamil sebagai sebuah muara cita-cita pendidikannya. Dalam hai inu pendidikan ialah salah satu bagian penting dari kehidupannya manusia yang tidak dapat di tinggal kan karena pendidikan ini merupakan sebuah transfer pengetahuan serta nilai. Tujuan pendidikan yaitu untuk menyempurnakan sebuah kecerdasan-keceradasan manusia yang dimana secara potensi sudah diberi oleh Allah SWT.

            Islam mengenal sebuah kelembagaan pendidikan ataupun pusat pendidikan sejak detik-detik awal ketika di turunkannya Wahyu Kepada baginda Nabi Muhammahd SAW. Pendidikan islam merupakan usaha secara sadar yang dimana di lakukan oleh dewasa-dewasa muslimin yang beriman dalam mengarahkan dan juga membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah ataupun kemampuan dasar anak-anak didik dengan ajaran islam kearah titik untuk memaksimal sebuah pertumbuhan dan juga perkembangannya.

            Pradigma tentang sebuah konsep pendidikan islam memang telah berkembang sangat luas sejak zaman dulu. Oleh dari itu maka sangat perlu merumuskan sebuah konsep agar dapat mencapai tujuan sesuai dengan apa yang di inginkan. Dalam artian bukan akan membuat sebuah konsep baru ataupun memilih dari tiga konsep dasar pendidikan islam tersebut melainkan akan menyusun sebuah konsep tersebut agar bisa menjadi satu pijakan dalam upaya melaksana kan pendidikan. Oleh karena itu maka perlu adanya ke pemahaman tentang ke tiga konsep dasar pendidikan islam agar kedepannya bisa menentukan sebuah alur ataupun arah dalam proses pendidikan untuk dapat menghantarkan manusia pada hakikat manusia yang dimana mengemban amanah dan juga dapat mewujudkan sebuah tatanan masyarakat serta kehidupan yang di rahmatila Allah SWT.

            Tempat tersebut bisa di lihat di negara-negara lain yang dimana islam sudah berkembang dengan berbagai kelembagaan-kelembagaan pendidikan yang formal dan juga non formal. Kecendrungan tersebut sesuai dengan sifat serta watak kelenturan nilai islam sendiri yang dimana di nyatakan dalam sebuah ungkapan Al-Islam Shalih Li Kuli Zaman Wa Al-Makan (Islam merupana agama yang sesuai dengan semua konteks zaman dan tempat).[1]  

            Pendidikan agama islam menghadapi segala hal yang menyangkut sebuah kehidupan dimuka bumi ini yang dimana berjalan dalam suatu sistem dan juga dalam sebuah poros kehidupan yang terjadi secara alami. Maka hal yang seperti itu menjadi contoh bagi makhluknya yang selalu berusaha dalam mengembangkan kehidupan manusiawinya dan juga alami sesuai dengan garuis yang sudah di tetapkan oleh Allah SWT.[2]  

Konsep pendidikan islam merupakan sebuah system pendidikan yang bisa memberikan kemampuan kepada setiap orang dalam memimpin sesuai dengan cita-cita serta dengan nilai-nilai islam yang sudah menjiwai dalam kepribadiannya. Adapun konsep islam mempunyai tujuan yang dimana sebuah perubahan yang di harapkan pada subjek-subjek pendidik setelah mengelami sebuah proses pendidikan yang baik pada tingkah laku individu serta kehidupan kepribadiaanya ataupun kehidupan bermasyarakat dengan alam sekitarnya dimana individu tersebut hidup.

     Konsep pendidikan merupakan pokok sebauh ajaran yang pada intinya tertunduk dalam melaksanakan semua perintah Allah SWT yang dimana mengandung arti yang sangat luas. Yang dalam arti bukan hanya ibadah akan tetapi memiliki arti khusus seperti sholat, zakat dan juga haji dala hal ini juga memiliki arti luas seperti melakukan semua aktivitas kebaikkan yang dilakukannya.

Atas dasar seperti itulah peneliti sangat tertarik untuk melakukan sebuah kajian terhadap pendidikan. Berdasarkan uraian dari latar belakang diatas maka peneliti mengangkat judul :” ANALISIS SEJARAH PENDIDIKAN PADA MASA RASULULLAH SAW DAN KHULAFA AL-RASYIDIN”.                     

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan dari uraian latar belakang tersebut maka dapat di rumusakan masalah sebagai berikut:” Bagaimana analisis sejarah pendidikan pada masa Rasulullah SAW Dan Khulafa Al-Rasyidin “

C.    Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.      Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini adalah sebagi berikut:

Untuk mengetahui bagaimana analisis sejarah pendidikan pada masa Rasulullah SAW dan Khulafa Al-Rasyidin

2.      Manfaat penelitian

Adapun manfaat dalam penelitian ini ialah:

a.       Secara Teoritis

1)        Sebagai sebuah pengembangan ilmu terutama dalam bidang pendidikan di masa Rasulullah SAW dan khulafa Al-Rasyidin

2)        Sebagai referensi untuk peneliti-peneliti lain yang akan melakukan penelitian di waktu mendatang 

b.      Secara Praktis

1)        Diharapkan menjadi sebuah rujukan bagi praktisi pendidikan

2)        Menambah khazanah pendidikan islam dalam menyampaikan pendidikan islam menurut Rasulullah SAW dan Khulafah Al-Rasyidin     

D.    Penelitian Terdahulu

Adapun penenlitian terdahulu dalam penenlitian ini adalah sebagai berikut:

1.      Wasis Setiyono (2011, STAIN penorogo) dengan judul “Studi Relevansi Pemikiran Muhammad Quthb dengan Pemikiran Al-Ghazali tentang tujuan pendidikan islam” adapun dalam penelitian hasil yang di temukan ialah sebuah formulasi pendidikan yang didirikan oleh Muhammad Quthb yang kemudian mengarah kepada orientasi pendidikan bersifat fungsional-fraktis sedangkan dalam pemikiran Al-Ghazali mengarah pada sebuah orientasi yang bertujuan lebih kepada agama dan akhlak. Dan dalam hal ini kedua pemikiran tersebut mengarah kepada relevansi pendidikan dengan dunia pendidikan islam yang ada di Indonesia. kemudian konsep tujuan pendidikan Muhammad Quthb yang dimana bersifat agamis dan praktis juga memiliki relevansi dengan sebuah lembaga seperti lembaga pendidikan madrasah. Sedangkan konsep pendidikan yang di kemukakan oleh Al-Ghazali yang bersifat agamis-konservatif dalam hal ini juga memiliki konservasi dengan lembaga pendidikan yang di pondok pesantaren tradisional.[3]

2.      Selanjutnya penelitian  kedua yang  dimana disampaikan dalam skripsinya Suhanik Tri Astuti (2006, STAIN Penorogo) dengan judul “Tujuan Pendidikan Islam Menurut Al-Ghazali” dimana hasil dari skripsi tersebut ialah sebuah tinjauan filsafat pendidikan yang mengarah kepada tujuan pendidikan islam menurut Al-Ghazali merupakan sebuah pandangan dari segi Al-Ghazali yang menganut paham idealisme dengan mempunyai konsekuansinya terhadap agama untuk dasar pandangannya. Dalam hal ini pokok permasalahan Al-Ghazali  lebih kepada paham empirisme aliran kontradiktif dengan sebuah konsep menurut Al-Ghazali adalah filsafat pendidikan metarialisme.[4]     

Dari hasil penelitian diatas maka dapat dilihat perbedaan serta persamaan dan adapun persamaannya dalam hal ini ialah dimana peneliti menganalisis tentang pendidikan dan adapun perbedaan dalam penelitian ialah objek kajiaanya yang dimana dalam penelitian ini mengambil objek  “Analisis sejarah pendidikan pada masa Rasulullah SAW Dan Khulafa Al-Rasyidin “       

E.     Metode Penelitian

1.      Jenis dan Sifat Penelitian

a)      Jenis Penelitian

Jenis penenlitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (Library Research) yang dimana dalam hal ini bertumpuh pada kajian dan teks dan ini di lakukan karena sumber-sember data yang akan di gunakan berupa sebuah data literature.  Penelitian pustaka (library research) menjadi sebuah bahan pustaka sebagai sumber data yang utama. Yang dimana data yang terkait dalam penelitian ini yang kemudian di kumpulkan dengan cara studi pustaka ataupun telaah kajian yang berkaitan dengan sebuah pemahaman-pemahaman ayat Al-Qur’an. Adapun pengumpulan data dalam sebuah penulisan skripsi ini penulis mengkaji beberapa sumber buku pendidikan islam sebagai acuan dalam penelitian kepustakaan (library research).[5] 

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa sebuah penelitian kepustakaan ataupun (Library Researc) merupakan rangkaian-rangkaian kegiatan yang berkenaan dengan sebuah metode pengumpulan data pustaka. Yang dimana dalam metode ini ialah membaca, mencatat dan juga mengelolah bahan-bahan penelitian. Dalam hal ini merupakan sebuah penelitian yang memanfaatkan sumber perpustakaan untuk memperoleh data penelitiannya. Artinya dalam penelitian ini ingin mengatahui “Analisis sejarah pendidikan pada masa Rasulullah SAW dan Khulafa Al-Rasyidin “

b)     Sifat Penelitian

Berdasarkan dengan judul penelitian diatas maka penenlitian ini merupakan penelitian termasuk dalam pendekatan kualitatif seperti yang di kutif oleh Moleong, Bagdan dan juga Taylor yang mendefinisikan bahwa sebuah metode kualitatif adalah sebagai sebuah prosedur penelitian yang akan menghasilkan data deskriptif yang mana berupa sebuah kata-kata yang tertulis maupun tidak tertulis dari semua orang dan juga perilaku yang diamati.[6] Adapun definisi tentang metode penelitian kualitataif ataupun pendekatan kualitataif ialah sebagai berikut:

Metode penelitian kualitataif merupakan sebuah penelitian yang berdasarkan pada filsafat postpositivisme dan adapaun untuk meneliti pada objek alamiah ialah sebagai instrument kunci dan juga tekhnik pengumpulan data yang di lakukan dengan cara triangulasi (gabungan). Analisis data ini bersifat induktif atau kualitatif dan hasil dari penelitian ini lebih menekan kan pada makna daripada generealisasinya.[7]  

Dari penelitian diatas maka dapat di ambil kesimpulan bahwa metode kualitatif ataupun pendekatan kualitatif merupakan pendekatan yang dilakukan secara utuh pada subjek-subjek penelitian yang dalam hal ini terdapat peristiwa yang mana peneliti menjadi instrument kunci pada sebuah penelitian. Yang demikian dari hasil sebuah pendekatan dapat juga di uraikan melalui bentuk kata-kata yang mana berasal dari hasil yang tertulis data empiris yang diperoleh dan adapun dalam pendekatan ini lebih pada penekanan makna daripada generiaslisasinya dan alasan penelitian ini mengguanakan pendekatan kualitatif ialah yang mana di karenakan data yang dihasilkan dalam penelitian ini dilakukan berupa sebuah kata-kata yang terdapat dalam sebuah teks naskah dan juga literature-literatur lainnya yang mana sangat relevan dengan pokok pembahasan.

2.      Sumber Data

Sumber data merupakan subjek dari mana data dapat di peroleh sumber data dan dalam penelitian ini terdapat dua macam ialah sebagai berikut:

a)      Data Primer ialah dimana data yang di dipatkan secara langsung dari subjek penelitian tersebut dengan menggunakan alat pengukur ataupun alat pengambilan data langsung kepada subjeknya yang mana sebagai subjek informasi yang di cari.[8] Dalam penelitian ini terdapat data primer yang membahas tentang Analisis sejarah pendidikan pada masa Rasulullah SAW dan Khulafa Al-Rasyidin.

b)      Data skunder yaitu dimana data yang langsung di kumpulkan oleh peneliti sebagai sebuah penunjang dari sumber pertama. Dan dalam hal ini juga dapat di katakan sebagai data yang tersusun dalam bentuk-bentuk dokumen.[9] Dalam penelitian ini terdapat data sekunder ialah dimana terdapat hadist kitab tafsir (penafsiran dari mufassir). Selain daripada itu peneliti juga menggunakan refrensi Al-Qur’an surat serta ayat yang lain, artikel dan majalah serta lain sebagainya. Dalam penelitian ini juga yang menjadi sumber referensinya ialah tokoh pendididkan yang mana bahan tersebut berkaitan dengan pendidikan serta beberapa topik yang menunjang dalam penelitian ini.   

3.      Teknik Pengumpulan data

Teknik pengumpulan data ialah sebagai cara-cara teknis yang di lakukan oleh seorang peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya. Adapun beberapa teknik dalam penelitian ini untuk mengumpulkan data ialah sebagai berikut : (1) Teknik observasi (2) Teknik Komunikasi (3) Teknik Pengukuran (4) Teknik wawancara serta (5) Teknik telaah dokumen. Dari beberapa tekhnik pengambilan data tersebut yang dimana dalam hal ini peneliti menggunakan teknik telaah dokumen atau bisa juga di sebut dengan telaah dokumentasi. Adapun pengertian teknik dokumentasi ialah dimana peneliti mengumpulkan beragam sumber-sumber yang tertulis dengan meliputi referensi buku dan surat kabar dan juga lain sebagainya.[10]     

Dalam penelitian ini langkah yang ditempuh melalui teknik dokumentasi ialah dimana data tentang analisis sejarah pendidikan pada masa Rasulullah SAW dan Khulafa Al-Rasyidin sebagai data primer. Yang kemudian menelaah tentang buku-buku dan juga tulisan-tulisan yang lain yang dimana dalam hal ini berkaitan dengan data sekunder. Dalam penelitian ini data yang sudah terkumpul yang kemudian melakukan penilaian dan juga menelaah secara cermat. Selanjutnya dengan langkah ini diharapkan akan menghasilkan sebuah data-data ataupun informasi-informasi yang valid ataupun yang dapat dipertanggung jawabkan.

4.      Teknik Penjaminan keabsahan data

Adapun keabsahan data yang di peroleh dalam penelitaian ialah suata hal yang sangat penting karena dalam hal ini untuk mengetahui kesesuaian data-data yang di miliki dengan data-data yang di sajikan. Agar dapat memperoleh data-data yang sesuai dan juga lengkap. Dalam hal ini peneliti juga menggunakan buku ataupun literature yang sangat relevan. Kemudian penelitian ini juga dilakukan dengan cara mencari sebuah buku-buku ataupun literature yang relevan. Dalam hal ini keterlibatan peneliti sangatlah penting karena keterlibatan dan juga ke ikutsertaan dalam hal ini peneliti tidak bisa di lakukan dalam waktu yang singkat akan tetapi membutuhkan pengamatan di tempat penelitian supaya dapat mengahasilkan data yang lengkap dan juga sesuai. Kemudian teknik penjamin keabsahan dalam data merupakan sebuah cara-cara yang dapat dilakukan oleh peneliti agar bisa memperoleh pengukuran darajat kepercayaan (credibility) didalam proses pengumpulan data sebuah penelitian.[11]

Penelitian ini adalah penelitian yang menggunakan penelitian kualitatif yang dimana metode tersebut mengguanakan kata-kata. dalam hal ini juga dapat di peroleh melalui kreadibiltas informannya baik di waktu pengungkapan maupun kondisi yang dialaminya. Maka dari itu peneliti perlu dalam melakukan tringulasi yaitu pengecekan sebuah data dari semua sumber dengan segala cara dan juga waktu. Sehingga terdapat tringulasi dari sumber baik tringulasi melalui teknik pengumpulan data maupun tringulasi waktu.   

a)        Tringulasi Sumber

Dalam hal ini cara dalam melakukan peningkatan kepercayaan peneliti ialah dengan cara mencari sebuah data dari sumber-sumber yang beragam dan juga masih terkait antara satu dengan yang lainnya. Yang kemudian peneliti harus melakukan ekspolrasi dalam pengecekkan sebuah keragaman data dari beragam sumber. [12]

Dari penejelasan diatas maka peneliti ingin mengkaji data tentang analisis sejarah pendidikan pada masa Rasulullah SAW dan Khulafa Al-Rasyidin.

b)       Triangulasi Tekhnik

Tringulasi teknik merupakan sebuhah penggunaan beragam dalam teknik pengungkapan data yang mana di lakukan kepada sumber data. Dalam hal ini menguji tringulasi data dengan tringulasi teknik dalam pengecekkan data unruk sumber yang sama akan tetapi teknik yang berbeda.[13]

Adapun dari hasil penjelasan diatas maka tringulasi merupakan sebuah pendekatan multimedia yang mana dilakukan oleh peneliti pada waktu pengumpulan data serta juga dalam menganalisis data. Ide dasarnya ialah fenomena-fenomena yang baik yang kemudian dapat di peroleh sehingga tringulasi ini berusaha untuk mengecek dari segala sudut pandang yang berbeda-beda.

5.      Tekhnik Analisis Data

Dalam penelitian kualitatif ini menggunakan sebuah teknik analisis data yang secara induktif ialah yang dimana berpijak pada sebuah fakta-fakta yang bersifat khusus, dalam hal ini proses sebuah analisis data yang diawali dengan menalaah data yang mana telah diperoleh melalui hasil dokumentasi yang kemudian di sajikan dalam sebuah catatan dan rekaman serta lain sebagainya.

Dalam hal ini penelitian yang di gunakan peneliti mempunyai tiga tahapan ialah sebagai berikut;

a)        Reduksi Data

Data yang di peroleh dari sebuah lapangan memiliki jumlah yang cukup banyak maka dari itu maka perlu di catat baik secara teliti dan juga rinci.Semakin peneliti lama berada di lapangan maka semakin banyak pula jumlah data-data yang di dapat serta komplek dan juga rumit maka dari itu perlu adanya analisis data dengan cara reduksi data. Dalam hal ini mereduksi data berarti merangkum serta memilih hal-hal pokok yang kemudian memfokuskan pada suatun hal-hal yang penting yang kemudian di cari tema serta polanya sehingga yang tidak penting atau tidak perlu dapat di buang.[14]   

Berdasarkan dari penjelasana diatas maka dalam penelitian ini peneliti dapat  mencatat dan juga dapat merangkum data. Yang dimana dapat memilih sebuah hal-hal pokok yang kemudian di fokuskan dengan hal-hal yang penting sehingga suatu hal yang tidak penting dapat di buang.

 

 

 

 

 

b)       Data Display

Dalam hal ini setelah data selesai di reduksi maka kemudian langkah yang seharusnya di lakukan yaitu mendisplaykan data. Dalam sebuah penelitian kualitatif maka penyajian data dapat di lakuakn melalui sebuah uraian yang singkat, dan sebuah hubungan antar kategori dan lain sejenisnya. Dalam hal ini sebuah penelitian kualitatif yang paling sering di gunakan dalam menyajikan sebuah data yang mana penelitian kualitatif tersebut di lakukan dengan sebuah teks yang bersifat naratif.[15]    

Dari penjelasan diatas maka peneliti dapat menyajikan sebuah data yang berbentuk uraian dan juga yang memiliki sebuah hubuangan antar kategori yang dimana di bahas dalam sebuah teks naratif.

c)        Conclusion Drawing/Verification

Adapun langkah ke tiga dalam analisis ini ialah sebuah penarikan dan  kesimpulan serta juga verifikasi. Pada sebuah kesimpulan awal yang di ungkapkan masih bersifat sementara dan kesimpulan tersebut akan berubah jika tidak dikemukakan sebuah bukti-bukti yang kuat dan juga mendukung pada sebuah tahap dalam pengumpulan data. Namun jika kesimpulan yang di ungkapakan pada sebuah tahap awal dapat di dukung oleh bukti-bukti yang valid serta juga konsisten pada saat peneliti terjun kembali kelapangan dalam mengumpulkan sebuah data. Maka dapat di katakan bahwa kesimpulan yang di kemukakan adalah sebuah kesimpulan yang kredibel.[16]

Dari penjelasan diatas maka dalam sebuah penelitian ini peneliti dapat menggunakan counclusion drawing/verification yang dimana dapat diambil sebuah kesimpulan yang bersifat sementara dalam sebuah penelitian dan dalam hal ini juga akan berubah jika tidak menemukan sebuah bukti-bukti yang begitu kuat dan serta mendukung dalam sebuah tahap pengumpulan data berikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

RASULULLAH SAW DAN KHULAFA AL-RASYIDIN

A.      Biografi Rasulullah SAW

1.         Biografi Rasulullah SAW

Rasulullah SAW lahir pada tahun 12 Rabiul awal bertepatan dengan tahun gajah. Dalam hal ini adapun Sejarah pendidikan Islam dimulai sejak wahyu pertama dan kedua diturunkan. Allah telah membentuk kepribadian pendidik pertama dalam Islam yaitu Nabi Muhammad SAW, yang merupakan corak periode pertama isi wahyu yang diturunkan-Nya. Hal ini mengindikasikan bahwa proses manusia memperoleh ilmu pertama sekali adalah melalui membaca, menulis, dan belajar-mengajar.

Al-Qur’an dan Hadits merupakan sumber utama dalam pendidikan Islam khususnya pendidikan agama yang di harapkan dapat memberikan petunjuk dan membimbing manusia kejalan yang diridhoi Allah SWT. Pendidikan sangat dibutuhkan oleh setiap individu manusia. Pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW sampai sekarang.

Wahyu yang pertama diterima Nabi Muhammad SAW adalah surat Al Alaq ayat satu sampai lima. Firman Allah SWT tersebut mengandung pembelajaran akan pentingnya membaca yang menjadi awal pendidikan yang diterima oleh Nabi. Kemudian pendidikan Islam mulai dilaksanakan Rasulullah setelah mendapat perintah dari Allah melalui firmannya, yaitu surat Al Muddassir 1-7, langkah awal yang ditempuh oleh Nabi adalah menyeru keluarganya, sahabat-sahabanya, tetangga dan masyarakat luas.

Pada masa Nabi Muhammad SAW, pendidikan Islam berpusat di kota Madinah, yaitu setelah Rasulullah hijrah dari kota Makkah. Setelah Rasulullah wafat kekuasaan pemerintahan Islam dipegang oleh Khulafaur Rasyidin dan wilayah Islam telah meluas di luar jazirah Arab. Para khalifah ini memusatkan perhatiannya pada pendidikan, syiar agama dan kokohnya Negara Islam.

Setelah Rosulullah SAW wafat maka tampuk kepemimipinan umat Islam dipercayakan kepada Khulafaur Rasyidin. Khulafaur Rasyidin berarti para pemimpin yang mendapatkan petunjuk. Mereka adalah Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin merupakan masa yang penting dalam perjalanan Islam. Mereka telah mampu menyelamatkan Islam, mengkonsolidasikannya, dan meletakan dasar-dasar kehidupan bagi keagungan agama Islam dan umatnya.

Dalam perjalanannya selain melakukan ekspansi wilayah keluar Jazirah Arab, kepemimpinan Khulafaur Rasyidin juga konsen dalam bidang pendidikan. Banyak prestasi yang telah dicapai oleh keempat penerus Rasulullah tersebut, beberapa masih bisa kita nikmati sampai saat ini. Lalu bagaimana model atau pola pendidikan Islam pada masa tersebut. Sebagai individu yang hidup dalam era global ini kita berlu mengetahui secara detail tentang pendidikan Islam pada masa Khulafaur Rasyidin.

a.        Periode Dakwah Awal di Mekkah

Periode ini merupakan masa pembentukan pribadi Nabi Muhammad SAW dan dakwah yang masih terbatas yang didahului dengan memperkenalkkan dasar-dasar tauhid dan akhlak. Keadaan ini menunjukkan bahwa hubungan dengan Allah harus lebih utama didahulukan daripada hubungan dengan sesama manusia. Akhlak menunjukkan kepribadian seseorang, yang dapat diperbaiki dengan didahului oleh kesadaran manusia itu sendiri. Sejarah pendidikan pada periode dakwah awal ini yang dilakukan oleh Rasulullah mengisyaratkan kepada manusia bahwa pendidikan harus didahului dengan mendidik diri sendiri seperti membiasakan diri untuk berpikiran positif, disiplin dalam beraktivitas, menjadi pendengar yang baik, menghargai pendapat orang lain, dan sebagainya. Selanjutnya, masa ini juga Rasul mendapat teror, penyiksaan sahabat dari kaum Quraisy yang membangkang. Namun Rasul dan pengikutnya tetap gigih menjalankan misi dakwahnya untuk mempertahankan Islam. Artinya, pendidikan Islam mendidik manusia untuk berkomitmen dalam menjalankan segala kegiatan yang telah direncanakan tanpa sedikitpun keraguan walau banyak rintangan yang menghalangi. Ada beberapa aspek yang diperbaiki Rasul ketika beliau berada di Mekkah, di antaranya yaitu:

1)        Pendidikan Akidah

Dari ayat pertama telah menunjukkan penekanan dan pemantapan akidah, yang menyangkut dengan kekuasaan Allah sebagai pencipta, Pemberi nikmat, tempat meminta segala bantuan dan pertolongan, Pemberi petunjuk pada jalan yang benar, Raja yang Maha Adil, dan Maha Perkasa di hari Kiamat. Mengenai cara mendidik umat dalam hal akidah, Rasul member kesadaran yang tinggi dan berpikiran yang jernih dalam menghadapi realita yang ada. Menyembah selain Allah adalah pekerjaan yang sia-sia seperti menyembah berhala yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah.

 

 

2)        Pengajaran Al-Qur‟an

Al-Qur‟an yang diwahyukan kepada Rasulullah dijadikan sebagai pedoman hidup bagi manusia dalam segala aspek baik secara ekonomi, sosial, maupun politik. Penyampaian al-Qur‟an dilakukan Rasul dengan cara mengajarkan hafalan, menjelaskan maksud, tujuan, atau inti sari yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur‟an serta menyarankan kepada masyarakat untuk merealisasikannya.[17] Di samping itu, Rasulullah SAW selalu melaksanakannya terlebih dahulu sebelum ia memerintahkan kepada umat, karena ia adalah contoh teladan bagi manusia. 

3)        Pendidikan Akhlak

Sebagaimana diketahui bahwa bangsa Arab memiliki corak kehidupan yang tidak bermoral, terjadi permusuhan di kalangan kabilah-kabilah, saling bertikai, terjadinya pelecehan terhadap kaum wanita, dan sebagainya. Oleh karena itu kehadiran Islam sebagai agama yang membawa kedamaian, maka Rasul mengubah pola hidup masyarakat ke arah yang lebih baik dan terhormat. Intinya, pendidikan dan pengajaran yang diberikan Nabi selama di Mekah ialah pendidikan keagamaan dan akhlak serta menganjurkan kepada manusia, supaya mempergunakan akal pikirannya memperhatikan kejadian manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan alam semesta seagai anjuran pendidikan „aqliyah dan ilmiah.[18] Dengan demikian, kurikulum pendidikan Islam pada periode ini menitikberatkan pada pada keimanan, ibadah dan akhlak.

b.        Pelaksanaan Pendidikan Periode Madinah

Berbeda dengan periode di Mekah, pada periode Madinah Islam merupakan kekuatan politik. Ajaran Islam yang berkenaan dengan kehidupan masyarakat banyak turun di Madinah. Nabi Muhammad juga mempunyai kedudukan, bukan saja sebagai kepala agama, tetapi juga sebagai kepala Negara. Banyak cara yang ditempuh Nabi dalam melakukan pembinaan dan pengajaran pendidikan agama Islam di Madinah. Pertama, pembentukan dan pembinaan masyarakat baru, menuju satu kesatuan sosial dan politik. Nabi Muhammad SAW mulai meletakkan dasar-dasar terbentuknya masyarakat yang bersatu padu secara intern (ke dalam), dan diakui secara ekstern, serta disegani oleh masyarakat lainnya (sebagai satu kesatuan politik).[19]  Kedua, pendidikan sosial politik dan kewarganegaraan. Materi pendidikan sosial dan kewarnegaraan Islam pada masa ini adalah pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam konstitusi Madinah, yang dalam prakteknya diperinci lebih lanjut dan di sempurnakan dengan ayat-ayat yang turun selama periode Madinah. Ketiga, pendidikan anak dalam Islam.[20] Dalam Islam, anak merupakan pewaris ajaran Islam yang dikembangkan oleh Nabi Muhammad SAW dan generasi muda muslimlah yang akan melanjutkan misi menyampaikan Islam ke seluruh penjuru alam. Adapun garis-garis besar materi pendidikan anak dalam Islam yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagaimana yang diisyaratkan oleh Allah SWT dalam surat Luqman ayat 13-19:

             وَإِذۡقَالَلُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيۡكَ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ يَٰبُنَيَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٖ فَتَكُن فِي صَخۡرَةٍ أَوۡ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ يَأۡتِ بِهَا ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٞ يَٰبُنَيَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ وَٱقۡصِدۡ فِي مَشۡيِكَ وَٱغۡضُضۡ مِن صَوۡتِكَۚ إِنَّ أَنكَرَ ٱلۡأَصۡوَٰتِ لَصَوۡتُ ٱلۡحَمِيرِ

13.  (Dan) ingatlah (ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia menasihatinya, "Hai anakku) lafal bunayya adalah bentuk tashghir yang dimaksud adalah memanggil anak dengan nama kesayangannya (janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan) Allah itu (adalah benar-benar kelaliman yang besar.") Maka anaknya itu bertobat kepada Allah dan masuk Islam.

 

14.  (Dan Kami wasiatkan kepada manusia terhadap kedua orang ibu bapaknya) maksudnya Kami perintahkan manusia untuk berbakti kepada kedua orang ibu bapaknya (ibunya telah mengandungnya) dengan susah payah (dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah) ia lemah karena mengandung, lemah sewaktu mengeluarkan bayinya, dan lemah sewaktu mengurus anaknya di kala bayi (dan menyapihnya) tidak menyusuinya lagi (dalam dua tahun. Hendaknya) Kami katakan kepadanya (bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang ibu bapakmu, hanya kepada Akulah kembalimu) yakni kamu akan kembali.

 

15.  (Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu) yakni pengetahuan yang sesuai dengan kenyataannya (maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang makruf) yaitu dengan berbakti kepada keduanya dan menghubungkan silaturahmi dengan keduanya (dan ikutilah jalan) tuntunan (orang yang kembali) orang yang bertobat (kepada-Ku) dengan melakukan ketaatan (kemudian hanya kepada Akulah kembali kalian, maka Kuberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan) Aku akan membalasnya kepada kalian. Jumlah kalimat mulai dari ayat 14 sampai dengan akhir ayat 15 yaitu mulai dari lafal wa washshainal insaana dan seterusnya merupakan jumlah i'tiradh, atau kalimat sisipan.

 

16.  ("Hai anakku, sesungguhnya) perbuatan yang buruk-buruk itu (jika ada sekalipun hanya sebesar biji SAWi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi) atau di suatu tempat yang paling tersembunyi pada tempat-tempat tersebut (niscaya Allah akan mendatangkannya) maksudnya Dia kelak akan menghisabnya. (Sesungguhnya Allah Maha Halus) untuk mengeluarkannya (lagi Maha Waspada) tentang tempatnya.

 

17.  (Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan mungkar serta bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu) disebabkan amar makruf dan nahi mungkarmu itu. (Sesungguhnya yang demikian itu) hal yang telah disebutkan itu (termasuk hal-hal yang ditekankan untuk diamalkan) karena mengingat hal-hal tersebut merupakan hal-hal yang wajib.

 

18.  (Dan janganlah kamu memalingkan) menurut qiraat yang lain dibaca wa laa tushaa`ir (mukamu dari manusia) janganlah kamu memalingkannya dari mereka dengan rasa takabur (dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh) dengan rasa sombong. (Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong) yakni orang-orang yang sombong di dalam berjalan (lagi membanggakan diri) atas manusia.

 

19.  (Dan sederhanalah kamu dalam berjalan) ambillah sikap pertengahan dalam berjalan, yaitu antara pelan-pelan dan berjalan cepat, kamu harus tenang dan anggun (dan lunakkanlah) rendahkanlah (suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara) suara yang paling jelek itu (ialah suara keledai.") Yakni pada permulaannya adalah ringkikan kemudian disusul oleh lengkingan-lengkingan yang sangat tidak enak didengar.

 

Ayat di atas menyimpulkan bahwa ada beberapa aspek pendidikan anak yang harus diterapkan oleh para pendidik yaitu pendidikan tauhid, akhlak, adab sopan dan santun dalam bermasyarakat, adab dan sopan santun dalam keluarga, pendidikan kepribadian, kesehatan, dan akhlak. Dengan demikian, kurikulum pendidikan Islam pada periode ini adalah, pertama, upaya pendidikan yang dilakukan Nabi pertama-tama membangun lembaga masjid, melalui masjid ini Nabi memberikan pendidikan Islam. Kedua, materi pendidikan islam yang diajarkan berkisar pada bidang keimanan, akhlak, ibadah, kesehatan jasmanai dan pengetahuan kemasyarakatan. Ketiga, metode yang dikembangkan oleh Nabi adalah melalui tanya jawab dengan penghayatan yang mendalam dan di dukung oleh bukti-bukti yang rasional dan ilmiah (dalam bidang keimanan), metode demonstrasi dan peneladanan sehingga mudah diikuti masyarakat (dalam bidang ibadah), metode peneladanan, Nabi tampil dalam kehidupan sebagai orang yang memiliki kemuliaan dan keagungan baik dalam ucapan maupun perbuatan (dalam bidang akhlak).[21]

Dengan demikian, pendidikan islami merupakan pembentukan diri dan perilaku yang tidak bisa didapatkan dalam waktu sekejap. Butuh kesinambungan proses baik transfer maupun kontrol terhadap hasilnya. Proses pendidikan yang dilakukan oleh Rasulullah juga berjalan dalam jangka waktu yang tidak singkat. Waktu 13 tahun dihabiskan selama di Mekah dan dilanjutkan di Madinah di sisa usianya hingga kembali ke haribaan tidak pernah berhenti untuk terus dan terus mendidik umat. Penjelasan singkat mengenai keteladanan Rasulullah SAW bagi pendidik umat bisa menjadi bekal untuk melakukan perbaikan mutu sikap dan pikir anak didik sesuai dengan syari‟at Islam.

B.       Khulafa Al-Rasyidin

1.         Masa kekhalifahan Abu Bakar

Abu Bakar As-Siddiq Radhīyallāhu ‘anhu dibaiat menjadi Khalifah pada tahun 11 H atau 632 M.[22]. Beliau merupakan laki-laki dewasa yang paling awal membenarkan dan beriman kepada Ajaran Islam yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad Shallallāhu 'alaihi wa sallam.[23] Beliau juga mengiringi Rasulullāh ketika berhijrah dari Mekkah ke Madinah.[24]

Pidato Khalifah Abu Bakar ketika ia diangkat menjadi khalifah.[25] memberikan gambaran tentang sikap dan konsep pemerintahan yang dikelolanya. Kandungan yang terdapat di dalam pidato tersebut juga menyentuh aspek pendidikan Islam dengan materi utama adalah kejujuran dan amanah.[26] yang peneladanannya langsung oleh Khalifah Abu Bakar. Metode dengan memberikan keteladanan[27] merupakan salah satu warisan penting dari Nabi Muhammad Shallallāhu 'alaihi wa sallam.

2.         Kekhalifahan Umar bin Khatab (13-23 H/634-644 M)

Umar bin Khatab Radhīyallāhu ‘anhu menjadi Khalifah untuk menggantikan Abu Bakar Radhīyallāhu ‘anhu yang telah wafat. Beliau ditunjuk atas dasar usulan dari Khalifah Abu Bakar Radhīyallāhu ‘anhu yang disampaikan pada saat bermusyawarah bersama tokoh Umat Islam pada waktu itu, dimana pada saat itu beliau dalam keadaan sakit.[28] Alasan dipilihnya Umar bin Khatab Radhīyallāhu ‘anhu adalah karena umat Islam segan dan hormat kepada beliau karena sifat-sifat terpujinya yang layak untuk menjadi teladan bagi umat Islam. Selain itu, beliau merupakan sahabat senior dan memiliki kemampuan serta kebijaksanaan dalam memimpin negara.

Situasi sosial dan politik pada masa Khalifah Umar bin Khatab Radhīyallāhu ‘anhu berada dalam keadaan yang stabil. Wilayah yang dikelola pemeritahan Islam pada waktu itu semakin luas, yang meliputi Semenanjung Arabia, Palestina, Syiria, Irak, Persia, dan Mesir. Sehingga Usaha dakwah atau penyebaran syariat dan pendidikan Islam mengalami perkembangan yang pesat pada masa beliau. Kondisi ini mendorong kebutuhan yang semakin meluas dan meningkat dalam segala bidang, termasuk kebutuhan tenaga terdidik yang memiliki kepribadian Islam yang tangguh, keterampilan dan keahlian. Untuk memenuhi kebutuhan ini, diperlukan peningkatan kualitas dan kuantitas lulusan proses pendidikan dari kalangan umat Islam.

3.         Kekhalifahan Utsman bin Affan (23-35 H/644-656 M)

Nama lengkapnya adalah Usman ibn Abil Ash ibn Umaiyah. Beliau masuk Islam atas dasar seruan Abu Bakar Siddiq. Usman bin Affan adalah termasuk saudagar besar dan kaya dan sangat pemurah menafkahkan kekayaannya untuk kepentingan umat Islam. Usman diangkat menjadi khalifah hasil dari pemilihan panitia enam yang ditunjuk oleh khalifah Umar bin Khattab menjelang beliau akan meninggal. Panitia yang enam adalah Usman, Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqash dan Abdurrahman bin Auf.

Khalifah ketiga periode khulafaur rasyidin, ia dipilih sebagai khalifah oleh sebuah dewan pemilihan  yang disebut syura. Sahabat yang sangat berjasa pada periode-periode awal pengembang Islam, baik pada saat Islam dikembangkan secara sembunyi-sembunyi maupun secara terbuka. Ia dijuluki Zu al-Nurain  (memiliki dua cahaya) karena ia menikahi dua putri Nabi Muhammad SAW. bernama Ruqayyah dan Ummu Kulsum. Selanjutnya Wa hijratain (turut hijrah dua kali ke Habsyi dan Yasrib (Madinah).

Pada masa khalifah Usman bin Affan, pelaksanaan pendidikan Islam tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya. Pendidikan dimasa ini hanya melanjutkan apa yang telah ada, namun hanya sedikit terjadi perubahan yang mewarnai pendidikan Islam. Para sahabat yang berpengaruh dan dekat dengan Rasulullah yang tidak diperbolehkan meninggalkan Madinah dimasa khalifah Umar, diberikan kelonggaran untuk keluar dan menetap di daerah-daerah yang mereka sukai. Kebijakan ini sangat besar pengaruhnya bagi pelaksanaan pendidikan di daerah-daerah.

Proses pelaksanaan pola pendidikan pada masa Usman ini lebih ringan dan lebih mudah dijangkau oleh peserta didik yang ingin menuntut dan belajar Islam dan dari segi pusat pendidikan juga yang lebih banyak, sebab pada masa ini para sahabat bisa memilih tempat yang mereka inginkan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat.

Ada satu usaha yang cemerlang yang telah terjadi berpengaruh luar biasa bagi pendidikan Islam yaitu untuk mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an dan penyalinannya karena terjadi perselisihan dalam bacaan Al-Qur’an. Khalifah Usman memerintahkan tim penyalin yaitu Zait bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Zaid bin Ash, dan Abdurrahman bin Harist. Bila terjadi pertikaian maka pendapat yang diambil adalah kepada dialek suku Quraisy.

Tugas mendidik dan mengajar pada masa Usman bin Affan diserahkan pada umat itu sendiri, artinya pemerintah tidak mengangkat dan menggaji guru-guru atau pendidik, mereka melaksanakan tugas dengan hanya mengharap keridhaan dari Allah. Tempat belajar masih seperti biasa yaitu di kuttab, masjid, dan rumah-rumah yang disediakan mereka sendiri atau rumah para gurunya. Usman lebih sibuk menghadapi masalah pemerintahan sehingga pendidikan tidak ada perkembangan yang signifikan.

Ada tiga fase dalam pendidikan dan pengajaran yang berlaku pada masa Usman bin Affan yaitu fase pembinaan, fase pendidikan dan fase pelajaran. Fase pembinaan dimaksudkan untuk memberikan kesempatan agar yang terdidik dapat memperoleh kemantapan iman. Fase pendidikan ditekankan pada ilmu-ilmu praktis dengan maksud agar mereka dapat segera mengamalkan ajaran dan tuntutan agama dengan sebaik-baiknya dalam kehidupan sehari-hari. Fase pelajaran yaitu ada pelajaran lain yang diberikan untuk penunjang pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Hadist seperti bahasa Arab dengan tata bahasanya, menulis, membaca, syair dan peribahasa.

Pada saat ini umat Islam sudah tersebar luas, mereka memerlukan pemahaman Alquran yang mudah dimegerti dan mudah dijangkau oleh alam pikirannya. Peranan hadis atau sunnah Rasul sangat penting untuk membantu dan menjelaskan Alquran. Lambat laun timbullah bermacam-macam cabang ilmu hadis.Tempat belajar masih di kuttab, di masjid atau rumah-rumah. Pada masa ini tidak hanya Alquran yang dipelajari tetapi Ilmu Hadis dipelajari langsung dari para sahabat Rasul.

Pengangkatan Utsman bin Affan Radhīyallāhu ‘anhu sebagai Khalifah merupakan hasil musyarawah dari majelis yang terdiri dari 6 orang Sahabat Nabi yang ditunjuk oleh Khalifah Umar bin Khatab Radhīyallāhu ‘anhu menjelang beliau wafat.[29] Sahabat Nabi tersebut adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Abdurrahman bin 'Auf dan Saad bin Abi Waqash Radhīyallāhu ‘anhum.

Utsman bin Affan Radhīyallāhu ‘anhu adalah sosok yang santun, lembut dan penyabar serta dermawan.[30] Beliau termasuk Sahabat Nabi yang sangat berjasa pada periode-periode awal Dakwah Islam, baik pada saat Islam didakwahkan secara sembunyi-sembunyi maupun secara terbuka. Allāh memberikan keutamaan kepada beliau dengan harta yang melimpah, dan beliau menggunakan hartanya untuk perjuangan Umat Islam di jalan Allāh dan dalam memenuhi segala kebutuhan serta fasilitas yang dikhidmatkan untuk kepentingan umat Islam.[31]

Pola Perkembangan penyelenggaraan pendidikan Islam pada masa Khalifah Utsman bin Affan Radhīyallāhu ‘anhu dari sisi kelembagaan hampir sama dengan masa sebelumnya, namun terdapat banyak perbedaan yang fundamental dari sisi kebijakan dan metode.

4.         Ali bin Abi Thalib (35-40 H/656-661 M)

Khalifah keempat khulafaur rasyidin juga sepupu dan sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW. adalah Ali ibnu Abi Thalib. Keturunan Bani Hasyim ini lahir di Mekah tahun 603 M. Dari kalangan remaja, ia adalah yang pertama masuk Islam. Nabi mengasuh Ali sejak usia 6 tahun dan pernah menyebutnya “saudaraku” dan “ahli warisku”. Ali banyak mengetahui tentang kehidupan Nabi, termasuk ilmu agama. Ali pernah menyelamatkan nyawa nabi ketika diminta tidur di tempat tidur Nabi untuk mengecoh kaum Quraisy. Ia selalu mendampingi Nabi SAW. hingga wafatnya dan mengurus pemakamannya.

Pada awal pemerintahan Ali, sudah diguncang peperangan dengan Aisyah (istri Nabi) beserta Talhah dan Abdullah bin Zubair karena kesalahpahaman dalam menyikapi kematian atau pembunuhan terhadap Usman, peperangan ini disebut perang Jamal (unta) karena Aisyah memakai kendaraan unta, sehingga pada masa kekuasaan Ali tak pernah merasakan kedamaian.

Sebetulnya tidak seharipun keadaan stabil selama pemerintahan Ali. Tak ubahnya beliau sebagai seorang yg menambal kain usang, jangankan menjadi baik malah bertambah sobek. Tidak dapat diduga bahwa kegiatan pendidikan pun saat itu mengalami hambatan karena perang saudara, meskipun tidak terhenti sama sekali. Stabilitas pendidikan dan keamanan sosial merupakan syarat mutlak terjadinya perkembangan itu sendiri baik ekonomi, sosial, politik, budaya maupun pengembangan intelektual dan agama. Ali sendiri tidak sempat memikirkan masalah pendidikan karena seluruh perhatiannya ditumpahkan pada masalah yang lebih penting dan sangat mendesak.

Demikian kehidupan pada masa Ali. Pendidikan yang masih berjalan seperti apa yang telah berlaku sebelumnya, selain adanya motivasi dan falsafah pendidikan yang dibina pada masa Rasulullah juga ada tumbuh motivasi dan falsafah pendidikan yang dibina oleh kaum Syi’ah dan Khawarij yang mengakibatkan banyaknya pandangan dan paham yang menjadi landasan dasar serta berpikir yang memberi kesempatan untuk mencerai beraikan umat Islam mendatang.

Dasar pendidikan Islam yang tadinya bermotif aqidah tauhid, sejak masa itu tumbuh di atas dasar motivasi, ambisius kekuasaan, dan kekuatan. Tetapi sebagian besar masih tetap berpegang kepada prinsip-prinsip pokok dan kemurnian yang diajarkan Rasulullah SAW. Ahmad Syalabi mengatakan: “Sebetulnya tidak seharipun, keadaan stabil pada pemerintahan Ali. Tak ubahnya beliau sebagai seorang menambal kain usang, jangankan menjadi baik malah bertambah sobek. Dapat diduga, bahwa kegiatan pendidikan pada saat itu mengalami hambatan dengan adanya perang saudara. Ali sendiri saat itu tidak sempat memikirkan masalah pendidikan, karena ada yang lebih penting dan mendesak untuk memberikan jaminan keamanan, ketertiban dan ketentraman dalam segala kegiatan kehidupan, yaitu mempersatukan kembali kesatuan umat, tetapi Ali tidak berhasil.

Pengganti Khalifah Utsman Radhīyallāhu ‘anhu adalah Ali bin Abi Thalib Radhīyallāhu ‘anhu. Beliau merupakan orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan anak-anak atau remaja. Binu Hajar menyebutkan bahwa usia Ali ketika masuk Islam adalah 10 tahun.

Ali bin Abi Thalib Radhīyallāhu ‘anhu merupakan putra dari paman Nabi Muhammad Shallallāhu 'alaihi wa sallam yaitu Abu Tholib bin Abdul Muthalib dan juga merupakan suami dari putri Baginda Nabi, yaitu Fatimah Az Zahra Radhīyallāhu ‘anha Khalifah Ali adalah seorang perwira yang pemberani dan selalu menjadi pembela Nabi Muhammad Shallallāhu 'alaihi wa sallam.

Pada masa pemerintahan Khalifah Ali, terjadi banyak pergolakan, sehingga dapat dikatakan, hampir tidak pernah mengalami kedamaian. Pergolakan dan peperangan internal umat Islam terjadi secara bergantian, yang merupakan imbas dari fitnah dan syubhat serta kesalahpahaman. Pada saat itu, Khalifah Ali memiliki waktu untuk memikirkan permasalahan dalam sektor pendidikan, karena perhatiannya berfokus penuh pada permasalahan keamanan dan kedamaian ummat Islam, sehingga penyelenggaraan pendidikan Islam yang berlangsung tidak mengalami perbedaan dengan masa sebelumnya.[32]

 

 

 

 

BAB III

ANALISIS SEJARAH PENDIDIKAN PADA MASA RASULULLAH SAW DAN KHULAFA AL-RASYIDIN

 

A.     Pendidikan Islam Masa Rasulullah

Pada sebuah pelaksanaan pembinaan pendidikan islam katika jaman Nabi bisa di bedakan dengan melalui dua tahap. Baik itu di lihat dari segi tempat penyelenggarannya maupun juga dilihat dari segi materi pendidikannya ialah sebagai berikut: (1) Tahap atau fase katika berada di kota mekkah dimana pada kota tersebut adalah sebuah awal dalam pembinaan pendidikan dan kota mekkah juga adalah pusat dimana kegiatannya..

(2) Tahap atau fase ketika di madinah dimana di kota tersebut adalah sebuah lanjutan dari pendidikan serta pendidikan islam dan kota madinah adalah sebuah pusat kegiatannya.[33]

1.         Pendidikan Islam di Mekkah

Pendidikan islam terjadi ketika Nabi Muhammad SAW dimana diangkat menjadi seorang Rasul Allah di kota mekkah serta beliaulah sendiri yang menjadi gurumya. Kemudian Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di Gua Hira pada tahun 610 M yang dimana gua tersebut berada di kota Mekkah. Dan di dalam wahyu tersebut di tertulis sebuah ayat Al-Qur’an yang mempunyai arti sebagai berikut: Bacalah (ya Muhammad) dengan nama Tuhanmu yang telah menjadikan (alam semesta). Dia menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah, yang mengajarkan dengan pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum di ketahuinya.[34]

Pendidikan islam yang di lakukan oleh Rasulullah SAW ialah setelah mendapat perintah dari Allah SWT supaya Rasulullah menyeru kepada Allah SWT. Sebagaimana yang sudah tertulis di dalam Al-Qur’an Surat Al-Mudatstsir ayat 1-7. Di dalam surat Al-Mudatstsir ini menyatakan bahwa “bangun (menyeru) yang dimana artinya mengajak yang berarti mendidik”.[35] kemudian adapun bahan dari sebuah materi pendidikan tersebut ialah dimana di turunkan secara berangsur-angsur atau sedikit demi sedikit.

Setelah sudah banyak orang-orang yang memluk agama islam kemudian Nabi Menyediakan sebuah rumah yang dinamankan Al-Arqam bin Abil Arqam dimana tempat tersebut sebagai tempat pertemuan para sahabat-sahabatnya serta juga para pengikut-pengikutnya.[36] Maka di tempat tersebutlah pendidikan Islam tercatat dalam sejarah pendidikan Islam. Serta di sanalah Rasulullah SAW mengajarkan sebuah dasar-dasar ataupun pokok-pokok agama Islam pada para sahabatnya dan juga membaca sebuah wahyu-wahyu (ayat-ayat) Al-Qur’an tersebut kepada para pengikutnya kemudian di tempat itu juga nabi selalu menerima tamu dan juga semua orang yang memluk agama islam kemudian di Al-Arqam ini pula Allah menunaikah shalat bersamaan dengan para sahabatnya.[37]

Dalam masa sebuah pembinaan pendidikan agama Islam yang berada di kota Mekkah maka Rasulullah juga mengajarkan sebuah Al-Qur’an yang dimana Al-Qur’an ialah inti dari sebuah sumber pokok-pokok ajaran islam. Disamping mengajar Al-Qur’an Rasulullah SAW juga mengajarkan ilmu-ilmu tauhid kepada umatnya. Dalam hal ini inti dari sebuah pendidikan yang di ajarkan oleh Rasulullah SAW ialah pendidikan serta penagajaran yang mengarahkan pada sebuah pendidikan akhlak dan juga keagamaan yang mana dianjurkan kepada manusia agar dapat mempergunakan akal serta pikirannya untuk memperhatikan sekelilingnya seperti contoh nya manusia, hewan serta tumbuh-tumbuhan yang mana juga merupakan anjuran pendidikan secara aqliyah dan ilmiah.[38]

Dalam hal ini secara sederhana bahwa sebuah pendidikan yang di lakukan oleh Rasulullah SAW di kota mekkah merupakan sebuah prototype yang mana tujuan tersebut untuk membina kepribadian muslim supaya menjadi seorang kader yang sangat berjiwa kuat serta juga mempersiapakan agar menjadi masyarakat-masyarakat islam dan juga mubaliq dan kemudian  menjadi pendidik yang baik. Dalam periode tersebut maka di lakukan  tiga tahapan yakni sebagai berikut; (1) secara rahasia dan juga perorangan (2) dilakukan secara terang-tarangan (3) pendidikan islam dilakukan untuk juga umum. Dalam hal ini adapun materi yang akan disampaikan ialah tentang materi ketuhanan (tauhid) kemudian juga tentang materi Al-Qur’an serta kandunganya.

2.         Pendidikan Islam di Madinah  

Berbeda dengan periode di kota Madinah yang mana pada periode di kota ini adalah sebuah kekuatan politik dalam ajaran Islam yang mana berkenaan dengan sebuah kehidupan masyarakat yang banyak turun di kota Madinah. Dalam hal ini Rasulullah SAW juga memiliki kedudukan yang lain yang mana bukan hanya sebagai kepala agama saja melainkan  juga sebagai kepala Negara. Adapun cara Nabi ketika di kota Madinah dalam pembinaannya ialah dengan pembinaan masyarakat baru dalam menuju satu kesatuan sosial dan juga politik. Rasulullah SAW mulai juga meletakkan sebuah dasar-dasar yang mana terbentuknya masyarakat-masyarakat yang bersatu padu dengan secara intern (ke dalam) dan juga ke luar yang mana diakui serta disegani oleh masyarakat-masyarakat lainnya dalam satu kesatuan politik. Berikut adalah dasar-dasarnya. [39]

a)        Rasulullah SAW mengikis dengan habis sebuah sisa-sisa permusuhan dan juga sebuah pertentangan antar suku dengan cara mengikat tali persaudaraan-persaudaraan diantara mereka semua.

b)        Untuk dapat memenuhi kebutuhan kebutuhan sehari-harinya maka Rasulullah SAW menganjurkan kepada semua kaum muhajirin untuk dapat berusaha dan juga bekerja sesuai dengan bidang pekerjaannya masing-masing.

c)        Untuk dapat menjalin sebuah kerjasama yang baik serta tolong menolong dalam rangka membentuk sebuah kehidupan bermasyarakat yang adil dan juga makmur maka turunlah syari’at zakat dan juga puasa yang mana dalam hal ini merupakan sebuah pendidikan bagi masyarakat dalam tanggung jawab sosial.

d)       Suatu kebijaksanaan yang sangat aktif dalam sebuah pembinaan dan juga pengembangan masyarakat-masyarakat baru di kota Madinah ialah di syariatkannya sebuah media komunikasi yang berdasarkan dengan wahyu yakni sholat jum’at  yang mana di lakukan secara berjama’ah.[40] Selanjutnya Rasulullah SAW mengadakan sebuah perjanjian dengan kaum yahudi sebagai penduduk Madinah.yang berisi dimana kaum yahudi bersahabat dengan kaum muslim, tolong menolong serta juga saling bantu membantu terutama jika ada musuh yang mau menyerang madinah. Dalam hal ini maka inilah  salah satu perjanjian sebuah pesahabatan yang dilakukan oleh baginda besar Nabi Muhammad SAW.[41]  

e)        Pendidikan sebuah sosial politik dan juga kewarnegaraan  (Sospol dan Pkn).

3.         Kurikulum dan Metode Pendidikan Islam Di Masa Rasulullah SAW

Kurikulum dalam sebuah pendidikan islam dikenal dengan sebuah kata manhaj yang mana mempunyai arti sebuah jalan yang terang yang dalam hal ini jalan yang dilalui oleh pendidik yang mana bersama-sama dengan anak didiknya dalam mengembangkan pengetahuan., sebuah ketrampilan dan juga sikap.[42] Kemudian adapun dalam hal ini bahwa sebuah kurikulum juga dapat di pandang dengan suatu program pendidikan yang mana dapat direncanakan serta juga dilaksanakan dalam pencapaian pendidikan.[43] Adapun pandangan H.M Arifin yaitu dimana kurikulum di nilai sebagai semua bahan pelajaran yang mana harus disajikan dalam sebuah proses kependidikan dengan system institusional pendidikan.[44] S. Nasution juga mengungkapkan bahwa ada beberapa penafsiran lain tentanga sebuah kurikulum yaitu diantaranya; (1) Kurikulum sebagai sebuah produk (hasil dari pengembangan kurikulum) (2) Kurikulum sebgai sebuah sesuaatu hal yang di harapkan dan juga juga di pelajari oleh siswa-siswa (sikap, keterampilan tertentu) kemudian yang selanjutnya (3) dimana kurikulum dipandang dengan sebuah pengalaman siswa.[45]

Adapun pengertian kurikulum dari pandangan modern ialah sebuah program pendidikan yang sudah disediakan oleh pihak sekolah yang dimana bukan hanya disediakan sebatas bidang studi dan kegiatan belajar saja melainkan meliputi segalanya yang mana dapat di perbaharui sebuah perkembangan serta pembentukan kepribadian siswa.[46] Kemudian dalam hal ini sebuah proses pendidikan Islam bukan hanya sebagai suatu proses yang hanya bisa di lakukan secara serampangan saja melainkan hendaknya mengacu kepada sebuah konseptualisasi manusia peripurna (insane Kamil) yang mana strategi tersebut dapat tersusun secara sistematis dalam sebuah kurikulum pendidikan Islam.[47]

Dalam hal ini adapun kurikulum pendidikan agama Islam pada masa Rasulullah SAW mempunyai sebuah cakupan materi ialah sebagai berikut; (1) Sebuah kajian Al-Qur’an dan juga hadist tentang keimanan dan ibadah serta juga akhlak. (2) Materi tentang sebuah persatuan dan juga kesatuan serta kesejahteraan sosial, gotong royong dan juga HanKam (pertahanan dan juga keamanan).

Adapun metode  yang di terapkan dan juga di kembangkan oleh Rasulullah SAW dalam menyampaikan sebuah materi yang sudah ada ialah sebagai berikut: metode ceramah dan tanya jawab serta juga demonstrasi, Uswah atau (keteladanan) dan juga hafalan.[48] Dalam hal ini selain kurikulum dan juga metode sebuah lembaga pendidikan masih dalam sederhana yang dimana berada di tempat rumah Rasulullah SAW sendiri yang bernama Al-Arqam bin abi Arqam. kuttab (rumah guru, halaman atau pekerangan sebuah masjid). Adapun murid yang belajar di kuttab ini disebut ashhabush Shuffah.[49] Kemudian menurut bagian ahli lain. Dalam hal ini suffah dianggap sebagai sebuah universitas islam yang pertama (The First Islamic University).[50]

4.         Kebijakan Rasulullah SAW Dalam Bidang Pendidikan

Proses sebuah pendidikan di jaman Rasulullah SAW pada saat berada di kota Mekkah belum berjalan seperti yang diharapkannya. Karena hal-hal yang demikian belum dimungkinkan yang dimana pada saat itu Rasulullah SAW belum berperan sebagai seorang pemimpin ataupun seorang kepala Negara dan bahkan beliau dan juga para pengikutnya berada dalam sebuah bayang-bayang ancaman dalam pembunuhan kaum kafir Quraisy. Dan pada waktu berada di Mekkah sebuah pendidikan berlangsung dari rumah ke rumah dan di lakukan secara sembunyi-sembunyi. Kemudian setelah masyarakat Islam sudah terbentuk di kota Madinah maka baru bisa sebuah pendidikan Islam berjalan dengan bebas dan juga terbuka untuk umum.

 Dalam hal ini adapun kebijakan-kebijakan yang di lakukan oleh Rasullah SAW ketika berada di kota Madinah: (1) Membangun sebuah masjid di kota Madinah dan masjid inilah yang kemudian dilanjutkan untuk digunakan sebagai sebuah pusat kegiatan-kegiatan dan juga sebagai sebuah pendidikan dan juga dakwah.[51] Rasulullah SAW dalam hal ini juga memerintahkan kepada beberapa sahabat yaitu Al-Hakam Bin Sa’id dalam mengajarkan di kuttab saat Rasulullah SAW sedang berada di kota Madinah.[52](2) Mempersatukan berbagai potensi-potensi yang pada awalnya masih saling berserahkan dan bahkan juga saling bermusuhan. Dalam hal ini langkah tersebut dituangkan dalam sebuah dokumen-dokumen yang sangat populer atau terkenal yang mana dalam hal ini disebut dengan piagam madinah. Kemudian dengan adanya sebuah piagam madinah maka terwujudlah sebuah keadaan-keadaan masyarakat yang begitu tenang dan harmonis serta juga damai.[53]

Pada masa sebuah pendidikan islam merupakan pendidikan yang formal dan juga sistematis akan tetapi belum bisa terselenggarakan yang mana pendidikan formal dalam hal ini baru muncul di masa-masa belakangan dan ini bersamaan dengan kebangkitan sebuah madrasah. Awal sebuah pendidikan islam dapat ditemukan di sebuah kota mekah pada jaman Rasulullah SAW dan pada saat itu Rasulullah SAW menyiarkan sebuah konsep perubahan radikal dimana sebuah hubungan dan juga sikap pada masyarakat-masyarakat arab sehingga menjadi mapan hingga saat ini. Perubahan tersebut maka sejalan dengan ajaran-ajaran Islam yang dimana memelukan sebuah kreativitas yang baru dan juga sebuah kelembagaan dalam meneruskan kelangsungan serta  perkembangan-perkembangan agama Islam. Rasulullah SAW juga telah berhasil membangkitkan sebuah kesadaran manusia yang dimana sangat penting bagi perkembangan –perkembangan di bidang keilmuan atapun juga pendidikan.[54]

Dalam hal ini maka pola sebuah pendidikan pada masa Rasulullah SAW ialah intinya yang dimana tidak terlepas dari sebuah metode, evaluasi dan materi ataupun kurikulum, kemudian peserta didik, lembaga serta juga dasar dan tujuan pendidikan islam baik itu secara teoritis maupun juga secara praktis.[55]

B.     Pendidikan Islam di masa Khulafa Al-Rasyidin  

1.         Masa Abu Bakar As-Shiddiq (632-634)

Setelah Nabi wafat, sebagai pemimpin umat Islam adalah Abu Bakar As-Siddiq sebagai khalifah. Khalifah adalah pemimpin yang diangkat setelah Nabi wafat untuk menggantikan Nabi dan melanjutkan tugas-tugas sebagai  pemimpin agama dan pemerintahan. Pada awal pemerintahannya digoncang oleh pemberontakan dari orang-orang murtad,orang-orang yang mengaku Nabi, dan orang-orang yang tidak mau membayar zakat. Oleh karena itu beliau memusatkan perhatiannya untuk memerangi pemberontakan yang dapat mengacaukan keamanan dan dapat mempengaruhi orang-orang Islam yang masih lemah imannya untuk menyimpang dari Islam.

Dengan demikian dikirimlah pasukan untuk menumpas pemberontak di Yamamah. Dalam penumpasan ini banyak umat Islam yang gugur terdiri dari para sahabat rasulullah dan para penghafal Al-Qur’an, sehingga mengurangi jumlah sahabat yang hafal Al-Qur’an. Oleh karena itu Umar bin Khatab menyarankan kepada khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan ayat Al-Qur’an. Kemudian untuk merealisasikan saran tersebut diutuslah Zait bin Tsabit untuk mengumpulkan semua tulisan Al-Qur’an. Muhammad Husain Haikal juga menegaskan dalam bukunya bahwa gagasan munculnya ide kodifikasi Al-Qur’an dilatarbelakangi peristiwa Yamamah dimana umat muslim terutama penghafal Al-Qur’an gugur di medan pertempuran.

Pola pendidikan pada masa Abu Bakar masih sama seperti pada masa Nabi, baik dari segi materi maupun lembaga pendidikannya. Dari segi materi pendidikan Islam terdiri dari pendidikan tauhid atau keimanan, akhlak, ibadah, kesehatan, dan lain sebagainya.

1.      Pendidikan keimanan, yaitu menanamkan bahwa satu-satunya yang wajib disembah adalah Allah.

2.      Pendidikan akhlak, seperti adab masuk rumah orang, sopan santun bertetangga, bergaul dalam masyarakat dan lain sebagainya.

3.      Pendidikan ibadah, seperti pelaksanaan shalat, puasa, dan haji.

4.      Kesehatan seperti tentang kebersihan, gerak-gerik dalam shalat merupakan didikan untuk memperkuat jasmani dan rohani.

Menurut Ahmad Syalabi, lembaga untuk belajar membaca dan menulis disebut dengan kuttab. Kuttab adalah lembaga pendidikan yang dibentuk setelah Masjid, selanjutnya Asama Hasan Fahmi mengatakan kuttab didirikan oleh orang-orang Arab pada masa Abu Bakar dan yang bertindak sebagai tenaga pendidik adalah para sahabat rasul yang terdekat. Masjid dijadikan sebagai lembaga pendidikan Islam serta benteng pertahanan rohani, tempat pertemuan dan lembaga pendidikan Islam, sebagai tempat sholat berjamaah, membaca Al-Qur’an dan sebagainya.

Menurut Ahmad Syalabi, lembaga untuk belajar membaca menulis ini disebut dengan kuttab. Kuttab merupakan lembaga pendidikan yang dibentuk setelah masjid, selanjutnya Asama Hasan Fahmi mengatakan bahwa kuttab didirikan oleh orang-orang Arab pada masa Abu Bakar  dan pusat pembelajaran pada masa itu adalah Madinah, sedangkan yang bertindak sebagai para pendidik adalah para sahabat Rasul yang terdekat.

Mata pelajaran yang diberikan kepada murid tidak jauh berbeda dengan pada zaman Nabi, hanya usaha perluasan dan pengembangan ilmu sudah mulai tampak. Tempat mengajar masih diutamakan di Masjid -Masjid . Selain itu pelajaran membaca dan menulis pun tidak ketinggalan. Pelajaran bahasa asing pun mulai dirintis untuk memenuhi kebutuhan komunikasi dengan penduduk yang tidak berbahasa Arab, sebagai akibat dari perluasan wilayah Islam ke luar jazirah Arab. Masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar tidak lama, tapi beliau telah berhasil memberikan dasar-dasar kekuatan bagi perjuangan perluasan dakwah dan pendidikan Islam. Pada sebuah pola pendidikan ketika masa Abu Bakar As-Shiddiq dalam hal ini masih sama seperti pada masa Rasulullah SAW baik jika dilihat dari segi materi ataupun dilihat dari segi kependidikannya.

Dari segi pendidikan islam ialah di mana terdiri dari sebuah pendidikan tauhid atau sebuah keimanan dan juga akhlak kemudian ibadah serta kesehatan. Dalam hal ini sebuah pendidikan keimanan yakni  menanamkan kepada anak-anak didiknya bahwa Allah SWT lah satu-satunya yang wajib di sembah. Kemudian jika dilihat dari pendidikan akhlaknya seperti contohnya bersifat sopan santun kepada tetangga dan juga bergaul dengan masyarakat ramai. Kemudian dalam hal ini jika di lihat dari pendidikan ibadahnya seperti yang dapat dilihat ialah mendirikan sholat serta berpuasa dan juga berhaji. Sedangkan jika dilihat dari segi kesehatannya maka dalam hal ini dapat dilihat dari segi kebersihan kemudian bersuci dan berwudhu, tata cara mandi serta istinja kemudian gerakan-gerakan dalam sebuah sholat dimana merupakan sebuah didikan dalam memperkuat baik jasmani maupun juga rohani.

2.         Masa Umar Bin Khatab (634-644 M)

Khalifah kedua dalam Islam juga orang kedua dari kalangan Khulafaur Rasyidin. Ia merupakan satu diantara tokoh-tokoh besar dalam sejarah Islam. Ia terkenal dengan tekad dan kehendaknya yang sangat kuat, cekatan, dan karakternya yang berterus terang, Sebelum menjadi khalifah dikenal sebagai pribadi yang keras dan tidak mengenal kompromi dan bahkan kejam. Dibawah pemerintahannya imperium Islam meluas dengan kecepatan yang luar biasa. Dapat dikatakan bahwa orang yang terbesar pengaruhnya setelah Nabi dalam membentuk pemerintahan Islam dan menegaskan coraknya adalah Umar ibnu Khattab.

Abu Bakar telah menyaksikan persoalan yang timbul dikalangan kaum muslimin setelah Nabi wafat, berdasarkan hal inilah Abu Bakar menunjuk penggantinya yaitu Umar bin Khattab, yang tujuannya adalah untuk mencegah supaya tidak terjadi perselisihan dan perpecahan di kalangan umat Islam, kebijakan Abu bakar tersebut ternyata diterima masyarakat. Pada masa khalifah Umar bin Khattab, kondisi politik dalam keadaan stabil, usaha perluasan wilayah Islam memperoleh hasil yang gemilang. Wilayah Islam pada masa ini meliputi Semenanjung Arabia, Palestina, Syiria, Irak, Persia dan Mesir. Dengan meluasnya wilayah Islam mengakibatkan meluas pula kehidupan dalam segala bidang. Untuk memenuhi kebutuhan ini diperlukan manusia yang memiliki keterampilan dan keahlian, sehingga dalam hal ini diperlukan pendidikan.

Pada masa khalifah Umar bin Khattab, sahabat-sahabat yang sangat berpengaruh tidak diperbolehkan keluar daerah kecuali atas izin dari khalifah dan dalam waktu yang terbatas. Jadi, kalau ada diantara umat Islam yang ingin belajar hadits harus pergi ke Madinah, ini berarti bahwa penyebaran ilmu dan pengetahuan para sahabat dan tempat pendidikan adalah berpusat di Madinah. Tetapi tidak berarti bahwa penyebaran dan pendidikan Islam kurang memiliki pengaruh keluar daerah madinah. Melakukan dakwah dan tabligh serta mengajarkan agama Islam dengan giat.

Berkaitan dengan masalah pendidikan ini, khalifah Umar bin Khattab merupakan seorang pendidik yang melakukan penyuluhan pendidikan di kota Madinah, beliau juga menerapkan pendidikan di masjid-masjid dan pasar-pasar serta mengangkat guru-guru untuk tiap-tiap daerah yang ditaklukkan, mereka bertugas mengajarkan isi al-Qur’an dan ajaran Islam lainnya, seperti fiqih kepada penduduk yang baru masuk Islam.

Di antara sahabat-sahabat yang ditunjuk oleh Umar bin Khattab ke daerah adalah Abdurrahman bin Ma’qal dan Imran bin Al-Hashim. Kedua orang ini ditempatkan di Basyrah. Abdurrahman bin Ghanam dikirim ke Syiria dan Hasan bin Abi Jabalah dikirim ke Mesir. Adapun metode yang mereka pakai adalah guru duduk di halaman masjid sedangkan murid melingkarinya.

Yang menjadi pendidik adalah Umar dan para sahabatnya yang lebih dekat dengan Rasulullah yang memiliki pengaruh besar, sedangkan pusat pendidikanya selain Madinah adalah Mesir, Syiria, dan Basyrah.

Meluasnya kekuasaan Islam, mendorong kegiatan pendidikan Islam bertambah besar, karena mereka yang baru menganut agama Islam ingin menimba ilmu keagamaan dari sahabat-sahabat yang menerima langsung dari Nabi. Pada masa itu telah terjadi mobilitas penuntut ilmu dari daerah-daerah yang jauh dari madinah, sebagai pusat agama Islam. Gairah menuntut ilmu agama Islam ini yang kemudian mendorong lahirnya sejumlah pembidangan disiplin keagamaan.

Pada masa khalifah Umar bin Khattab, mata pelajaran yang diberikan adalah membaca dan menulis al-Qur’an dan menghafalnya serta belajar tentang pokok-pokok agama Islam. Pada masa ini tuntutan untuk belajar Bahasa Arab juga sudah mulai tampak, orang yang baru masuk Islam dari daerah yang ditaklukkan harus belajar Bahasa Arab jika ingin belajar dan memahami pengetahuan Islam.

Pelaksanaan pendidikan di masa khalifah Umar bin Khattab lebih maju, sebab selama Umar memerintah negara berada dalam keadaan stabil dan aman, ini disebabkan disamping telah ditetapkannya masjid sebagai pusat pendidikan, juga telah terbentuknya pusat-pusat pendidikan Islam diberbagai kota dengan materi yang dikembangkan, baik dari segi ilmu bahasa, menulis, dan pokok ilmu-ilmu lainnya. Pendidikan dikelola di bawah pengaturan gubernur yang berkuasa saat itu, serta diiringi kemajuan di berbagai bidang, seperti jawatan pos, kepolisian, dan baitulmal. Adapun sumber gaji pendidik pada waktu itu diambilkan dari daerah yang ditaklukkan dan dari baitulmal

Pada masa Umar Bin Khatab sebuah kebijakan-kebijakan penting yang mana berkaitan dengan sebuah pendidikan yaitu membuat sebuah surat tugas yang mana di tujukan kepada para-para panglima perang dan isi surat tersebut ialah apabila mereka berhasil dalam menguasai satu kota saja maka hendaknya mereka harus mendirikan sebuah masjid yang dimana di jadikan sebgai tempat sebuah ibadah dan juga pendididkannya.[56] Bukan hanya itu dalam hal ini juga Umar Bin Khattab mengangkat serta menunjukkan guru-guru di setiap daerah yang di taklukannya. Selain itu mereka juga di suruh untuk bertugas dalam mengajarkan sebuah Al-Qur’an dan juga ajaran islam lainnya seperti ilmu fiqih serta tauhid kemudian akhlak dan juga ibadah kepada seorang penduduk-penduduk yang baru masuk islam.[57] Dalam hal ini diantara para sahabat-sahabat yang di tunjuknya ialah Abdurrahman bin Ma’qaal dan juga Imran bin Basyrah kemudian Abdurrahman bin Ghanam di kirim ke kota Syiriah dan Hasan bin Abi Jabalah di krim ke kota mesir. Kemudian di dalam pembelajarannya mereka menggunakan sebuah metode halaqah (dimana mempunyai maksud “ Guru duduk di sebuah halaman masjid kemudian muridnya melingkarinya”.

Adapun kurikulum pada masa Umar Bin Khattab yang mana berisi sebuah pelajaran membaca dan juga menulis serta tidak lupa dalam menghafal sebuah Al-Qur’an dan juga Hadist dan juga dapat belajar pokok-pokok agama Islam. Pada masa Umar bin Khattab lebih maju di banding pada masa-masa sebelumnya. Dalam masa ini juga ada tuntutan dalam belajar bahasa arab. Dan orang baru juga sudah terlihat di sebuah daerah yang ditaklukan dalam belajar bahasa arabnya. apabila ingin belajar dan juga ingin memahami penegtahuan islamnya Maka dari itu pengajaran dalam bahasa arabnya sudah ada atau sudah disediakan. Dan dalam hal ini juga pengajaran dalam pembelajaran bahasa arabnya sudah lebih bagus. kemudian keberadaan Negara saat masa ini berada dalam keadaan stabil dan juga aman. Dalam hal ini di sebabkan karena ditetapkan sebuah masjid sebagai pusat pendidikan-pendidikan islam di berbagai kota-kota dan juga diterapkan berbagai mater-materi pendidikan yang ingin dikembangkan.  

3.         Masa Usman bin Affan (644-656 M)

Pada masa kepemerintahan Usman bin Affan pelaksanaan dalam pendidikannya tidaklah jauh berdebda dengan masa-masa yang sudah terjadi sebelumnya kemudian di masa ini hanyalah melanjutkan sesuatu apa yang sudah ada dan dalam hal ini mempunyai sedikit perbedaan yang mana mewarnai pendidikan islam. Bagi para-para sahabat yang berpengaruh dan juga dekat dengan Rasulullah SAW yang mana tidak diperbolehkan oleh Rasulullah untuk meninggalkan kota Madinah pada masa pemerintahan khalifa Umar dapat diberikan sebuah kelonggaran dalam mengeluarkan dan juga menetap disebuah daerah yang dimana mereka suka. Dalam hal ini sebuah kebijakan tersebut sangatlah berpengaruh dalam sebuaah pelaksanaan-pelakasanaan pendidikan di daerah-daerah.[58]

Dalam hal ini sebuah proses pelaksanaan dalam pola pendididkan ialah dimana lebih ringan dan juga lebih mudah dalam menjangkau oleh semua peserta didik yang dalam hal ini juga ingin belajar dan juga menuntut ilmu-ilmu islam. Jika di lihat dari segi pusat ke pendidikannya sangatlah banyak karena pada masa Usman ini para guru-guru dapat memilih sebuah tempat yang sesuai dengan mereka inginkan dalam memberikan sebuah pendididkan dalam masyarakat. Kemudian pada masa ini peserta didik terdiri dari kategori (1) Orang dewasa atau orang tua yang baru masuk Islam (2) adapun yang ke dua anak-anak yang mana orang tuanya sudah lama atau baru memeluk agama Islam, kemudian (3) Orang dewasa dan orang tua yang dalam hal ini sudah lama memeluk islam (4) Orang yang mengkhususkan dirinya dalam menuntut ilmu agama baik itu secara luas maupun secara mendalam.  

Adapun dalam hal ini dari keempat golongan peserta didik tersebut sebuah pelaksanaan dan juga sebuah penagajaran tidaklan mungkin dapat dilakukan dengan menyama ratakan namun harus ada pengklasifikasian yang rapi dan juga sisitematis yang mana disesuaikan dengan sebuah kemampuan serta sebuah kesanggupan dari peserta didik. Adapun dalam hal ini metode yang digunakan Golongan pertama menggunakan metode ceramah, hafalan dan latihan. Golongan kedua menggunakan metode hafalan dan latihan. Golongan ketiga menggunakan metode diskusi, ceramah, hafalan dan tanya jawab. Golongan keempat menggunakan metode ceramah, hafalan tanya jawab dan diskusi serta sedikit hafalan.[59]  

4.         Masa Ali bin Abi Thalib (656-661 M.)  

Pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, sudah diguncang peperangan dengan Aisyah (istri Nabi) beserta Talhah dan Abdullah bin Zubair karena kesalahfahaman dalam menyikapi pembunuhan terhadap Usman. Peperangan diantara mereka disebut perang Jamal (unta) karena Aisyah menggunakan kendaraan unta. Setelah berhasil mengatasi pemberontakan Aisyah, muncul pemberontakan lain, sehingga masa kekuasaan khalifah Ali tidak pernah mendapatkan ketenangan dan kedamaian.[60]

Diantara pemberontakan yang lain adalah dari Muawiyah sebagai gubernur Damaskus memberontak untuk menggulingkan kekuasaannya. Peperangan ini disebut perang Shiffin, karena terjadi di Shiffin. Ketika tentara Muawiyah terdesak oleh pasukan Ali, maka Muawiyah segera mengambil siasat untuk menyatakan tahkim (penyelesaian secara adil dan damai). Semula Ali menolak, tetapi karena desakan dari beberapa tentaranya akhirnya Ali menerimanya, namun tahkim malah menimbulkan kekacauan, sebab Muawiyah curang, dengan tahkim tersebut, Muawiyah berhasil mengalahkan Ali dan mendirikan pemerintahan tandingan di Damaskus. Sementara itu, sebagian tentara yang menentang keputusan Ali dengan cara tahkim, meninggalkan Ali dan membuat kelompok tersendiri yaitu khawarij. Dengan kericuhan politik pada masa Ali ini, kegiatan pendidikan Islam mendapat hambatan dan gangguan. Pada saat itu khalifah Ali bin Abi Thalib tidak lagi memikirkan masalah pendidikan karena seluruh perhatiannya ditumpahkan pada masalah keamanan dan kedamaian bagi masyarakat Islam.

Akhirnya dapat dikatakan bahwa, secara umum pola pendidikan pada masa Khulafaur rasyidin tidak jauh berbeda dengan masa Nabi yang menekankan pada pengajaran baca tulis dan materi tentang ajaran-ajaran Islam yang bersumber pada Al-Qur‟an dan Hadits Nabi. Adapun kemajuan pendidikan yang dicapai pada masa Khulafaur-rasyidin yaitu terwujud-nya pusat-pusat pendidikan antara lain:[61]

a)        Mekkah. Guru pertama di Mekkah adalah Muaz bin Jabal yang mengajarkan Al-Qur‟an dan Fiqih.

b)        Madinah. Sahabat yang terkenal antara lain Abu Bakar, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan sahabat-sahabat lainnya.

c)        Bashrah. Sahabat yang termasyhur antara lain Abu Musa Al-Asy‟ari, seorang ahli fiqih dan Al-Qur‟an.

d)       Kuffah. Sahabat-sahabat yang termasyhur disini adalah Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas‟ud yang mengajarkan Al-Qur‟an (ia adalah ahli tafsir, hadits dan fiqih).

e)        Damsyik (Syam); sahabat yang mengajarkan ilmu di sana adalah Mu‟az bin Jabal (di Palestina), Ubaidillah (di Hims) dan Abu Darda (di Damsyik).

f)          Mesir. Sahabat yang mula-mula mendirikan madrasah dan menjadi guru di Mesir adalah Abdullah bin Amru.              

C.    Pembahasan

Pada masa Nabi daerah kekuasaan Islam hanya meliputi seluruh daerah Jazirah Arabia dan pendidikan Islam berpusat di Madinah. Namun setelah Rasulullah SAW., wafat dan digantikan oleh Khulafa al-Rasyidin yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib daerah kekuasaan Islam sudah bertambah luas di luar jazirah Arabia yang meliputi Mesir, Persia, Syria dan Irak. Keempat orang khalifah ini disamping mementingkan kekuasaan Islam mereka juga menaruh perhatian yang besar pada pendidikan Islam demi syi’arnya agama dan dan kokohnya Negara Islam.

Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq terpilih secara aklamasi pada peristiwa Saqifah Bani Sa’idah pada saat jenazah Rasulullah SAW. belum lagi dimakamkan. Sepeninggal Rasulullah SAW., umat Islam yang kuat kadar keimanannya hanya pada penduduk Makkah, Madinah dan Thaif, selain dari itu ketiga kota tersebut kadar keimanan masyarakat Islam belum kuat benar. Ketika mereka mendengar Rasulullah SAW., meninggal banyak di antara mereka kembali kepada agama nenek moyang mereka atau murtad. Di samping itu bermunculan orang-orang yang mengaku dirinya menjadi Nabi dan sebagian besar masyarakat Islam tidak mau membayar zakat, mereka beranggapan zakat hanya diberikan kepada Nabi, tetapi karena Nabi sudah wafat, maka tidak ada lagi kewajiban membayar zakat tersebut.

Pada masa awal pemerintahannya Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq telah dihadapkan pada tiga peristiwa penting yang memerlukan solusi segera. Pertama, adalah orang yang murtad, kedua, munculnya nabi palsu dan ketiga, orang yang enggan membayar zakat. Menghadapi ketiga persoalan ini, Khalifah Abu Bakar bermaksud memerangi ketiga kelompok ini. Pada mulanya rencana Abu Bakar mendapat tantangan dari sahabat Nabi Umar bin Khattab.

Namun Khalifah Abu Bakar bersikeras untuk memerangi ketiga kelompok manusia itu yang dapat mengacaukan keamanan dan dapat mempengaruhi umat Islam yang kadar keimanannya masih lemah. Maka dikirimlah pasukan untuk menumpas para pemberontak di Yamamah. Dalam operasi penumpasan yang dipimpin oleh Panglima Perang Khalid bin Walid telah gugur sebanyak 73 orang sahabat dekat Rasulullah SAW., dan para penghafal Al-Qur’an. Kenyataan ini menyebabkan umat Islam telah kehilangan sebagian para penghafal al- Qur’an. Dan jika tidak diperhatikan lama kelamaan, sahabat-sahabat penghafal Al-Qur’an akan habis dan akhirnya akan terjadi perselisihan di kalangan umat Islam tentang kitab suci mereka. Oleh karena itu sahabat Umar bin Khattab mengusulkan kepada khalifah Abu Bakar untuk segera mengumpulkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dari hafalan-hafalan para sahabat Nabi penghafal Al-Qur’an yang masih tersisa.

Saran tersebut pada mulanya tidak diterima oleh Khalifah Abu Bakar, karena hal tersebut tidak pernah dilakukan Nabi. Namun sahabat Umar bin Khattab bisa meyakinkan khalifah Abu Bakar dengan mengatakan: “Demi Allah, ini adalah perbuatan baik, maka Khalifah Abu Bakar merealisasikan saran tersebut dengan menugaskan sahabat Zaid bin Tsabit, seorang penulis wahyu pada masa Rasulullah SAW., untuk segera mengumpulkan semua tulisan ayat-ayat Al-Qur’an yang dihafal oleh para sahabat penghafal Al-Qur’an. Dalam waktu kurang lebih setahun, Zaid bin Tsabit berhasil melaksanakan misi yang sangat mulia itu yaitu mengumpulkan bacaan Al-Qur’an yang ditulis pada pelepah daun kurma, kulit-kulit onta dan dibundel dalam sebuah bundelan.

Bundelan itu akhirnya diserahkan kepada Khalifah Abu Bakar Ash- Shiddiq. Dengan demikian Khalifah Abu Bakar berhasil menyelamatkan keaslian kitab suci Al-Qur’an, materi dasar pendidikan Islam.[62] Operasi penumpasan terhadap ketiga kelompok pemberontak mencapai keberhasilan yang gemilang, orang-orang yang murtad kembali ke pangkuan Islam, orang-orang yang enggan membayar zakat sudah mau kembali membayar zakat dan nabi-nabi palsu ada yang berhasil dibunuh dan sebagian tobat menyesali perbuatannya. Pemberontakan tersebut memberikan pengalaman bagi umat Islam untuk memperteguh ajaran-ajaran Islam kepada kaum muslimin sehingga dapat dihindari kejadian serupa. Pengalaman tersebut memperteguh pendidikan Islam untuk memperkokoh nilai-nilai Islam di kalangan kaum muslimin. Akan tetapi, pelaksanaan pendidikan Islam di masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq ini masih seperti pada masa Rasulullah SAW., baik materi maupun lembaga pendidikannya.

Setelah berhasil mencapai stabilitas politik dalam negeri, Khalifah Abu Bakar melanjutkan misi yang dibawa oleh Rasulullah SAW., yang sempat terhenti karena wafatnya Nabi yaitu melakukan ekspansi atau meluaskan wilayah kekuasaan Islam ke wilayah Syria. Usaha umat Islam berhasil menaklukkan Syria. Khalifah Abu Bakar hanya menjalankan pemerintahan selama lebih kurang 2 tahun, akhirnya Khalifah Abu Bakar  wafat karena sakit, sebelum wafatnya Khalifah telah berwasiat dengan menunjuk langsung sahabat Umar bin Khattab untuk menggantikan posisinya sebagai khalifah. Akhirnya Umar bin Khattab terpilih sebagai khalifah kedua dan disetujui oleh seluruh kaum muslimin.

Pada masa khalifah Umar bin Khattab, kondisi politik dalam negeri dalam keadaaan stabil, Khalifah Umar melanjutkan usaha yang telah dirintis Rasulullah SAW., dan Khalifah Abu Bakar yaitu melakukan ekspansi atau penyebarluasan wilayah Islam. Ekspanasi yang terjadi pada masa Khalifah Umar mencapai hasil yang gemilang, satu persatu wilayah-wilayah yang dulunya merupakan jajahan kerajaan Romawi dan Persia jatuh ke tangan umat Islam. Daerah-daerah tersebut adalah meliputi Semenanjung Arabia, Palestina, Syria, Irak, Persia dan Mesir.

Dengan meluasnya wilayah Islam sampai ke luar jazirah Arabia, penguasa memikirkan pendidikan Islam di daerah-daerah di luar Jazirah Arabia karena bangsa-bangsa tersebut memilki adat dan kebudayaan yang berbeda dengan Islam. Untuk itu, Khalifah Umar memerintahkan panglima-panglima apabila mereka berhasil menguasai suatu kota, hendaknya mereka mendirikan masjid sebagai tempat ibadah dan pendidikan. (Syalabi, 1978:94) Berkaitan dengan usaha pendidikan Islam itu, Khalifah Umar mengangkat dan menunjuk guru-guru untuk tiap-tiap daerah yang ditaklukkan, yang bertugas mengajarkan isi Al-Qur’an dan ajaran Islam kepada penduduk yang baru masuk Islam.

Karena negara Islam sudah menyebar luas ke luar Jazirah Arabia, maka pusat pendidikan Islam bukan di Madinah saja, tetapi tersebar juga di kota-kota besar sebagai berikut : (a) Kota Mekkah dan Madinah (Hijaz), (b) Kota Basrah dan Kufah (Iraq), (c) Kota Damsyik dan Palestina (Syria), (d) Kota Fustat (Mesir).

Suatu hal yang paling berbeda pada masa ini yaitu tidak ada lagi guru besar yang agung yakni Rasulullah SAW. Pengikut-pengikut beliau selama ini mendapat batu ujian yang cukup berat pada masa ini dalam melanjutkan risalah Islam, terutama menghadapi berbagai rintangan yang datang dari batang tubuh bangsa Arab sendiri. Rasulullah SAW., semasa hidupnya telah menggariskan dasar-dasar utama pendidikan Islam, dan telah menghasilkan insan-insan berpendidikan yakni para sahabat beliau yang mendapat kepercayaan memangku jabatan sebagai Amirul Mukminin. Hasilnya menunjukkan bahwa pendidikan pada masa Nabi itu benar-benar ampuh. Mereka para sahabat sanggup dan berhasil melalui segala rintangan dan cobaan. Dalam sejarah mereka teracatat sebagai guru-guru besar dunia. Setiap ujian dilalui dengan sukses besar, karena mereka berpegang dengan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumbu utama ideologi Islam.

Masa Khulafa al-Rasyidin adalah masa perjuangan besar, pertarungan antara yang hak dan yang batil, pertarungan antara yang asli dan yang palsu. Kebatilan pada waktu itu tidak sama dengan kebatilan pada masa Rasulullah SAW. Pada masa Khulafa al-Rasyidin kebatilan datang dalam bentuk-bentuk; kepala-kepala suku Arab sekitar Makkah, orang-orang yang ambisi menjadi pemimpin, menghadapi raja-raja Persia, raja-raja atau bangsawan Romawi dan sebagainya. Semua itu membawa akibat yang sama yaitu kebatilan.

Sahabat-sahabat Rasulullah SAW., pada masa ini mengalami perjuangan  seperti yang mereka hadapi pada masa Rasulullah SAWw., tetapi dalam bentuknya tersendiri. Mereka berpencar ke seluruh penjuru negeri mengajarkan apa yang mereka pelajari dari Rasulullah SAW., pada waktu dulu. Pada masa Khulafa al-Rasyidin ini, kaum muslimin telah mengadakan kontak langsung dengan negeri-negri taklukan yang mempunyai peradaban berbeda satu sama lainnya, untuk menyebarkan dakwah Islamiyah diperlukan kemahiran berbahasa. Oleh karena itu pendidikan dalam ilmu bahasa atau lisaniyah ini sudah mulai dirintis pada masa Khulafa al-Rasyidin.

Sarana-sarana pendidikan yang berbentuk halaqah telah tumbuh dengan baik. Menurut sebagian riwayat bahwa Kuttab sebagai lembaga pendidikan untuk mengajarkan membaca Al-Qur’an dan pokok-pokok agama Islam telah tumbuh pada masa Khulafa al-Rasyidin.

Pada masa khalifah Umar bin Khattab memerintah, Ali bin Abi Thalib telah menumpahkan perhatiannya pada perkembangan ilmu pengetahuan. Bersama dengan sepupunya Abdullah bin Abbas mengadakan kuliah atau pengajian sekali seminggu di masjid Jami’ dalam bidang ilmu bahasa, fiqih, hadist dan termasuk filsafat khususnya logika. Begitu pula para sahabat yang lain menyampaikan berbagai jenis mata pelajaran di berbagai tempat.[63] Secara umum dapat dikatakan bahwa pada masa Khulafa al- Rasyidin belum ada pemikiran baru dalam bidang pendidikan yang menonjol, kecuali sebagai pelanjut dari pendidikan yang ada pada masa Nabi.

Adapun hal-hal yang dapat dikatakan membedakan pendidikan pada masa Rasul adalah pada masa Khulafa al-Rasyidin ini sudah tumbuh minat untuk memperdalam ilmu bahasa atau lisaniyah dan mulai ada perhatian sedikit terhadap filsafat Yunani, itupun hanya terbatas pada logika. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, sahabat-sahabat besar yang lebih dekat kepada Rasulullah SAW., dan memiliki pengaruh besar dilarang keluar meninggalkan kota Madinah kecuali atas izin khalifah dan hanya dalam waktu yang terbatas. Dengan demikian penyebaran ilmu para sahabat besar terpusat di Madinah sehingga kota Madinah muncul sebagai pusat studi ilmu keislaman. Meluasnya kekuasaan Islam, mendorong kegiatan pendidikan Islam bertambah besar karena mereka yang baru menganut Islam ingin menimba ilmu-ilmu keislamn dari para sahabat Nabi yang masih hidup yang langsung menerima pengajaran dari Rasulullah SAW., khususnya yang menyangkut Hadist Rasulullah SAW., sebagai salah satu sumber pokok ajaran Islam yang belum dibukukan hanya berdasarkan ingatan para sahabat-dan sebagai alat bantu dalam menafsirkan Al-Qur’an. Tidak terelakkan lagi pada masa ini terjadi mobilitas penuntut ilmu dari daerah-daerah yang jauh menuju Madinah sebagai pusat studi ilmu-ilmu agama Islam.

Gairah menuntut ilmu agama Islam tersebut di belakang hari mendorong lahirnya sejumlah pembidangan disiplin ilmu keagamaan, seperti tafsir, hadist, fikih dan sebagainya. Tuntutan belajar bahasa Arab juga sudah nampak dalam pendidikan Islam pada masa Khalifah Umar. Dikuasainya wilayah baru oleh umat Islam, menyebabkan munculnya keinginan untuk belajar bahasa Arab sebagai bahasa pengantar di wilayah-wilayah baru tersebut. Orang-orang yang baru masuk Islam dari daerah-daerah yang ditaklukkan, harus belajar bahasa Arab, jika mereka ingin belajar dan mendalami pengetahuan keagaman Islam. Oleh karena itu, masa ini sudah terdapat pengajaran bahasa Arab.

Pada masa-masa Khulafa al-Rasyidin sebenarnya telah ada tingkat pengajaran, hampir seperti masa sekarang, tingkat pertama ialah kuttab, tempat anak-anak belajar menulis dan membaca/menghafal Al-Qur’an serta belajar pokok-pokok Agama Islam. Setelah tamat Al-Qur’an mereka meneruskan pelajaran ke masjid. Pelajaran di masjid ini terdiri dari tingkat menengah dan tingkat tinggi. Pada tingkat menengah gurunya belumlah ulama besar, sedangkan pada tingkat tinggi gurunya ulama yang dalam ilmunya dan masyhur kealiman dan kesalehannya. Umumnya pelajaran diberikan guru kepada murid-murid seorang demi seorang baik di Kuttab atau di masjid pada tingkat menengah. Pada tingkat tinggi pelajaran diberikan oleh guru dalam satu halaqah yang dihadiri oleh pelajar bersama-sama.

Ilmu-ilmu yang diajarkan pada kuttab pada mulanya adalah dalam keadaan sederhana yaitu belajar membaca dan menulis, membaca Al-Qur’an dan menghafalnya serta belajar pokok-pokok agama Islam seperti cara berwudu’, shalat, puasa dan sebagainya. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab beliau menginstruksikan kepada penduduk kota supaya diajarkan kepada anak-anak berenang, mengendarai kuda, memanah, membaca dan menghafal syair-syair mudah dan peribahasa. Dengan demikian mulai masuk dalam pengajaran rendah gerak badan dan membaca syair-syair mudah serta peribahasa. Sedangkan sebelum itu hanya membaca Al-Qur’an saja. Instruksi Khalifah Umar itu dilaksanakan oleh guru-guru di tempat-tempat yang dapat dilaksanakan di kota-kota yang mempunyai sungai, seperti di Iraq, Syam, Syria, Mesir, dan lain-lain.

Pada saat Khalifah Umar bin Khattab terbaring sakit. Atas desakan sejumlah tokoh masyarakat Madinah, Umar mengangkat suatu dewan yang terdiri dari enam sahabat pilihan, yaitu Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubeir bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqas dan Abdu al-Rahman bin Auf. Sedangkan putera Umar, Abdullah bin Umar mempunyai hak memilih dan tidak berhak dipilih. Pada waktu itu Thalhah bin Ubaidillah sedang tidak berada di Madinah. Abdu al Rahman bin Auf mengusulkan agar dia diperkenankan mengundurkan diri, tetapi kepadanya ditugaskan bermusyawarah dengan kaum muslimin dan memilih salah seorang di antara sahabat-sahabat yang ditunjuk Umar untuk menjadi Khalifah.

Usul Abdurrahman diterima dan para sahabat berjanji memenuhi apa yang diusulkan Abdurrahman. Setelah bermusyawarah dengan tokoh-tokoh masyarakat dan ternyata telah berkembang polarisasi di kalangan masyarakat Islam. Mereka terbagi menjadi dua kubu yaitu pendukung Ali dan pendukung Usman. Atau dengan kata lain pendukung Bani Hasyim dan pendukung Bani Umayyah. Lalu Abdurrahman menanyakan kepada Usman dan Ali secara terpisah tentang seandainya bukan dia (Ali) siapa yang lebih patut menjadi khalifah, maka Ali menjawab Usman, begitu juga sebaliknya, ketika Usman ditanya tentang masalah yang sama, Usman menjawab Ali. Lalu Abdurrahman menanyakan kepada keduanya tentang kesediaan mereka menegakkan Kitab Allah dan Sunnah Rasul serta Sunnah dua khalifah sesudahnya, Ali menjawab bahwa dirinya berharap dapat berbuat sejauh pengetahuan dan kemampuannya. Lalu Abdurrahman berganti mengajukan pertanyaan yang sama kepada Usman. Dengan tegas Usman menjawab “Ya, saya sanggup”. Berdasarkan jawaban itu Abdurrahman menyatakan Usman bin Affan sebagai Khalifah ketiga dan segera dilaksanakan bai’at.[64] Jadi, terpilihnya Usman bin Affan sebagai Khalifah terutama disebabkan oleh komitmen yang dinyatakannya untuk melanjutkan kebijaksanaan pendahulunya.

Usman bin Affan terkenal sebagai orang yang berbudi pekerti luhur, sangat pemalu, dermawan, lemah lembut, penuh kasih sayang, pemaaf, selalu berprasangka baik, bersikap toleransi, paling baik bergaul dengan orang lain, lapang dada lagi sabar, paling kuat menjaga hubungan kekerabatan dan terlalu lemah serta tunduk kepada keluarga. Usman bin Affan sebagai seorang yang sangat kaya, terlalu terikat dengan kepentingan orang-orang Mekkah. Walaupun dia masuk Islam sejak awal risalah Nabi dan mengabdi kepada Islam sepanjang hayat, ia menghabiskan sebagian umurnya di Mekkah, selain itu ia banyak mempunyai hubungan dagang dan mengerti benar dengan kepentingan-kepentingan suku Quraisy. Ia mempunyai sifat yang sangat lemah lembut yang kadang-kadang terlihat sangat hati-hati dalam mengambil suatu keputusan, tetapi justru kelemahan pada kebijakan-kebijakannya. Dalam menjalankan roda pemerintahannya, Usman tidak terlepas dari sifar-sifat yang dimilikinya di antaranya terlalu lemah dalam melawan desakan keluarganya. Usman bin Affan diangkat menjadi khalifah menjelang usia 70 tahun. Para ahli sejarah membagi masa pemerintahan Usman bin Affan pada dua periode. Enam tahun pertama pemerintahan yang gemilang dan enam kedua pemerintahan yang kacau.

Pada enam tahun pertama ditandai dengan keberhasilan menjadikan daerah-daerah Armenia, Irtifiqiya, Cyprus, Rhodes, Tabaristan, Transoxania menjadi daerah kekuasaan Islam. Abdullah bin Abi Sahr berhasil menembus sampai ke Afrika Utara. Dari Basrah Abdullah bin Amir berhasil menaklukkan sisa wilayah kerajaan Sasaniyah. Dari Kufah beberapa ekspedisi militer bergerak ke Utara untuk meluaskan daerah di sekitar Laut Kaspia. Pada masa pemerintahan Usman bin Affan berhasil dibangun Angkatan Laut yang kuat. Di antara pertempuran ini pasukan Islam dipimpin oleh Abdullah bin Abi Sarh berhasil mengalahkan tentara Romawi di Laut Tengah dekat Iskandariyah.[65] Pada masa Khalifah Usman bin Affan, pelaksanaan pendidikan Islam tidak jauh berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Pendidikan pada masa ini hanya melanjutkan apa yang telah ada.

Hanya sedikit perubahan yang mewarnai pelaksanaan pendidikan Islam dari apa yang telah ada. Para sahabat besar Rasulullah SAW., yang berpengaruh dan dekat dengan Rasulullah SAW., pada masa Khalifah Umar tidak diizinkan meninggalkan Madinah, maka pada masa Khalifah Usman diberikan sedikit kelonggaran untuk keluar Madinah dan menetap di daerah-daerah yang mereka sukai. Di daerah-daerah yang baru tersebut mereka mengajarkan ilmu-ilmu keislaman yang mereka miliki dan dapatkan langsung dari Rasulullah SAW. Kebijakan ini besar sekali manfaatnya bagi pelaksanaan pendidikan Islam di daerah-daerah yang baru. Sebelumnya umat Islam di luar Madinah dan Mekkah, khususnya dari luar Semenanjung Arabia, harus menempuh perjalanan yang jauh, melelahkan dan memakan waktu yang lama untuk bisa menuntut ilmu-ilmu agama Islam di Madinah. Tetapi dengan tersebarnya para sahabat Rasulullah SAW., yang langsung mendapatkan pengajaran dari Nabi ke berbagai daerah meringankan umat Islam di daerah-daerah yang baru untuk belajar ilmu-ilmu agama Islam kepada para sahabat Nabi yang mempunyai pengetahuan yang banyak dalam ilmu-ilmu agama Islam di daerah mereka sendiri atau di daerah yang terdekat.

Usaha yang kongkrit dalam bidang pendidikan Islam belum dikembangkan pada masa Khalifah Usman bin Affan. Khalifah sudah merasa puas terhadap pendidikan Islam yang telah berjalan pada masa yang gemilang telah dicapai pada masa pemerintahan khalifah ketiga ini adalah usaha pembukuan kitab suci Al-Qur’an yang mempunyai pengaruh yang luar biasa bagi pendidikan Islam. Khalifah Usman melanjutkan usaha yang dulu dirintis oleh Khalifah Abu Bakar yaitu pengumpulan Al-Qur’an dari hafalan-hafalan para sahabat penghafal Al- Qur’an. Bundelan itu disimpan oleh Khalifah Abu Bakar, kemudian diserahkan kepada Khalifah kedua Umar bin Khattab, setelah itu dititipkan Khalifah Umar kepada puterinya Hafsah binti Umar yang juga istri Rasulullah SAW.

Pada masa Khalifah Usman bin Affan, khalifah memerintahkan supaya bundelan Al-Qur’an yang disimpan Hafsah dipinjam untuk disalin kembali. Khalifah telah membentuk sebuah panitia yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit dengan anggotanya adalah Abdullah bin Zubeir, Abdurrahman bin Harits dan Zaid bin Ash, mereka ini mendapat tugas untuk menyalin Al-Qur’an yang sudah dibukukan. Penyalinan ini dilatarbelakangi oleh perselisihan yang terjadi dalam bacaan Al-Qur’an yang dilihat oleh sahabat Huzaifah binul Yamani dan langsung dilaporkannya kepada Khalifah Usman bin Affan. Khalifah Usman merasa khawatir perselisihan tentang bacaan Al-Qur’an di kalangan umat Islam akan sama dengan perselisihan umat Yahudi dan Nasrani tentang bacaan kitab suci mereka. Maka Khalifah memerintahkan untuk segera menyatukan bacaan Al-Qur’an. Akhirnya khalifah memerintahkan penyalinan Al-Qur’an tersebut, sekaligus menyatukan bacaan Al-Qur’an sebagai pedoman, apabila terjadi perselisihan bacaan antara Zaid bin Tsabit dengan tiga anggota tim penyusun, hendaknya ditulis sesuai dengan lisan Quraisy.

 Zaid bin Tsabit bukan orang Qurasiy, sedangkan ketiga orang anggotanya adalah orang Quraisy.[66] Setelah menyelesaikan tugas yang mulia tersebut, khalifah Usman bin Affan memerintahkan kepada tim penyusun untuk menyalin kembali beberapa mushfat Al-Qur’an untuk dikirimkan ke Mekkah, Kufah, Basrah dan Syam. Khalifah Usman sendiri memegang satu Mushaf yang dikenal dengan nama Mushaf al-Imam. Mushaf Abubakar dikembalikan lagi ke tempat penyimpanan semula yaitu di rumah Hafsah binti Umar. Khalifah Usman meminta kepada seluruh kaum muslimin agar memegang teguh apa yang tertulis di mushaf yang dikirimkan kepada mereka. Sedangkan mushaf yang sudah ada di tangan umat Isalm untuk segara dikumpulkan dan dibakar untuk menghindari perselisihan tentang bacaan Al-Qur’an serta untuk menjaga keaslian Al-Qur’an. Fungsi Al-Qur’an sangat fundamental bagi sumber agama dan ilmu-ilmu keislaman.

Oleh karena itu untuk menjaga keaslian Al-Qur’an dengan menyalin dan membukukannya merupakan suatu usaha demi perkembangan ilmu-ilmu keislaman di masa mendatang. Usman bin Affan mewarisi sebuah pemerintahan yang gemilang, umpamanya perluasan wilayah dan timbulnya kota-kota baru, pembentukan institusi keuangan. Usman berusaha menekankan otoritasnya sebagai pemimpin, khususnya terhadap kegiatan para tokoh dan amir di provinsi. Sebagai salah seorang anggota keluarga besar Bani Umayyah, Usman nampaknya cenderung melihat efektifitas penggunaan tokoh-tokoh Umayyah yang dikenalnya secara baik dalam proses konsolidasi tersebut. Para sejarahwan melihat garis kebijaksanaan yang ditempuh Khalifah Usman bin Affan dan mereka memandang Usman bin Affan telah melaksanakan politik yang dikenal dengan nepotisme. Pada saat Usman bin Affan menggantikan kedudukan Umar, ia mulai menyimpang dari kebijaksanaan Umar.

Sedikit demi sedikit ia mulai menunjuk sanak kerabatnya untuk menduduki jabatan-jabatan penting dan memberikan kepada mereka hadiah-hadiah. Semua pejabat yang diangkat Usman adalah orang-orang yang sangat kompeten, kecuali Walid bin Uqbah dan sebagian besar telah berpengalaman. Usman mengangkat mereka karena dia dapat mempercayai mereka, mengingat kedudukannya sebagai tokoh kelompok Quraisy. Pada enam tahun terakhir dari pemerintahannnya banyak terjadi persoalan-persoalan di dalam negeri. Sikapnya yang kurang tegas, penuh toleransi dan lemah dalam menentang ambisi keluarganya yang kaya dan berpengaruh dalam masyarakat Arab dimanfaatkan oleh sanak kerabatnya untuk memperoleh jabatan dan memperkaya diri sementara kelompok lain tidak menikmatinya.

Akibat adanya praktek nepotisme dalam pemerintahan khalifah Usman bin Affan dan sikapnya yang lemah dalam bertindak sehingga terjadi pergeseran nilai dalam kehidupan masyarakat Islam. Dari pola hidup sederhana (pada masa Umar) menjadi pola hidup mewah. Dengan demikian timbullah persaingan yang menjurus kepada pertentangan antar golongan. Perhatian para pejabat pemerintahan bergeser dari masalah politik dan administrasi beralih kepada masalah sosial ekonomi. Pemerintahan Usman bin Affan yang bercorak nepotisme yang memberikan jabatan-jabatan penting kepada sanak kerabatnya serta memberikan keistimewaan-keistimewaan lainya telah menyebabkan protes dan kritikan rakyat secara umum.

Pengaruh kebijaksanaan khalifah Usman sangat dirasakan di provinsi-provinsi, seperti di Fustat dan Kufah. Rakyat di daerah-daerah banyak mengeluh, karena 181 kesewenang-wenangan yang dijalankan pejabat-pejabat keturunan Bani Umayyah yang diangkat Usman, tetapi keluhan rakyat ini tidak sampai kepada khalifah. Akhirnya timbullah pemberontakan di Kufah, Basrah dan Mesir. Ketidakpuasan kaum muslimin yang merupakan bibit dari gejolak sosial dan pemberontakan kepada khalifah adalah merupakan akumulasi dari berbagai masalah yang rumit dan kompleks.

Sedangkan daya pendorong timbulnya pemberontakan yang berasal dari Mesir. Di Mesir ketidakpuasan timbul akibat tindakan Gubernur Mesir Abdullah bin Abi Sarah yang bertindak sewenang-wenang. Ia membebani penduduk Mesir dengan pajak di luar kesanggupan mereka. Penduduk mesir mengadukan hal ini kepada khalifah dan khalifah memberikan peringatan keras kepada Abdulllah bin Abi Sarah, tetapi Abdullah bin Abi Sarah tidak menghiraukan peringatan tersebut, bahkan ia menghukum orang-orang yang mengadukan hal tersebut kepada khalifah. Peristiwa itu membangkitkan kemarahan penduduk Mesir serta sahabat Nabi. Dengan keras mereka menuntut Khalifah Usman supaya memecat Abdullah bin Abi Sarah. Tuntutan mereka diterima baik, maka khalifah Usman mengangkat Muhammad bin Abi Bakar, orang yang mereka pilih sebagai gubernur Mesir. Para demonstran merasa puas dan kembali ke negeri mereka. Tetapi di tengah perjalanan delegasi Mesir kembali lagi ke Madinah dengan penuh emosi, setelah mereka mengetahui adanya sepucuk surat atas nama khalifah Usman yang dikirimkan kepada Abdullah bin Abi Sarah, berisi perintah supaya membunuh anggota delegasi Mesir. Mereka minta pertanggung jawaban Khalifah Usman, tetapi Khalifah mengingkari menulis atau menyuruh seseorang menulis surat semacam itu, tetapi ketika mereka menuntut penyerahan sekretaris khalifah yaitu Marwan bin Hakam, Usman menolak. Sauasana menjadi tegang.Ali berusaha menengahi permasalahan tersebut dengan sekuat tenaga mencegah mereka melakukan tindakan kekerasan, akan tetapi para pembangkang tetap berkeras.

 Para sahabat Nabi seperti Thalhah, Ali dan Zubeir mengirimkan puteranya masing-masing untuk melindungi khalifah Usman yang dikepung oleh para pemberontak, akan tetapi jumlah pemberontak banyak. Mereka menerobos masuk ke rumah khalifah dengan memanjat dinding, akhirnya terjadilah tragedi berdarah yang tidak dapat dielakkan. Usman bin Affan terbunuh di tangan pemberontak pada Shubuh hari Jum’at bulan Zulhijjah tahun 35 Hijriyah atau bertepatan pada bulan Juni tahun 656 Masehi.[67] Perbuatan kezaliman kaum pemberotak bukan saja berpengaruh terhadap diri Usman, tetapi juga memberikan pengaruh yang besar terhadap kehidupan kaum muslimin berikutnya. Sepeninggal Usman, sebagian kaum muslimin menginginkan Ali bin Abi Thalib naik menjadi khalifah keempat, pada mulanya Ali menolak, tapi akhirnya mau menerima setelah mendapat desakan dari sebagian kaum muslimin. Naiknya Ali menjadi khalifah tidak disetujui oleh Bani Umayyah yang merupakan keluarga terdekat khalifah Usman. Apalagi Khalifah Ali dengan segera memecat pejabat-pejabat penting yang dulu diangkat Usman. Sebagai contoh, Khalifah Ali memecat gubernur Syria Muawiyah bin Abi Sofyan sebagai gubernur Syria, namun Muawiyah tidak terima malah dia mengangkat dirinya menjadi khalifah dan menentang Ali dengan alasan menuntut bela kematian Usman kepada Ali.

 Di satu sisi lain Ali menghadapi tantangan yang lain yaitu datangnya dari Asiyah, Thalhah dan Zubeir yang menentang Ali karena Binu Zubeir berambisi menjadi khalifah. Ali memusatkan perhatian untuk menghadapi pasukan Aisyah, Thalhah dan Zubeir terlebih dahulu, maka terjadilah peperangan yang dikenal dengan nama Perang Jamal (perang onta), karena panglima perangnya Aisyah pada waktu itu mengendarai onta. Pada peperangan ini pasukan Ali memperoleh kemenangan, Aisyah tertawan dan dikembalikan dengan penuh kehormatan ke Makkah, sedangkan Thalhah dan Zubeir tewas terbunuh. Kemudian Ali bersiap-siap untuk menghadapi tantangan dari pasukan Muawiyah yang sudah siap-siap untuk menentang Ali di sebuah tempat yang bernama Shiffin. Dalam peperangan tersebut pasukan Ali hampir memperoleh kemenangan, namun dalam pasukan Muawiyah terdapat seorang ahli politik yang sangat lihai ia mengusulkan supaya pasukan Muawiyah mengangkat mushaf Al-Qur’an tinggi-tinggi ke atas dengan ujung tombak sebagai ajakan damai.

 Melihat hal tersebut sebagai seorang ahli strategi militer Ali tahu itu hanya tipu muslihat, Ali menginginkan perang dilanjutkan karena kemenangan sedikit lagi akan diperoleh, namun Ali menghadapi desakan dari sebagian pasukannya yang menginginkan perang dihentikan karena musuh mengajak berdamai. Karena Ali terus didesak, maka dengan sangat terpaksa Ali menghentikan peperangan. Maka dicapailah perundingan damai (tahkim). Dalam peristiwa tahkim tersebut pasukan Ali terkalahkan oleh kelicikan Amru bin Ash di pihak Muawiyah bin Abi Sofyan. Karena tidak setuju dengan tahkim sebagian pasukan Ali keluar dari barisan Ali dan membentuk kelompok tersendiri. Mereka inilah dalam sejarah dikenal dengan nama golongan Khawarij. Menurut golongan Khawarij, siapa saja yang terlibat dalam peristiwa tahkim adalah kafir, maka mereka berusaha untuk membunuh Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abu Sofyan dan Amru bin Ash. Karena Ali tidak pernah menggunakan pengawal pribadi, salah seorang Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam hanya berhasil menikam khalifah keempat ini pada Shubuh dini hari.

Kekacauan dan pemberontakan yang terjadi pada masa Khalifah Ali, membuat Syalabi berkomentar: “Sebenarnya tidak pernah ada barang satu haripun, keadaaan yang stabil selama masa pemerintahan Ali. Tak ubahnya dia sebagai seorang yang menambal kain usang, jangankan menjadi baik malah bertambah sobek. Demikianlah nasib Ali”. Lebih lanjut dijelaskan oleh Soekarno dan Ahmad Supardi, bahwa saat kericuhan politik di masa Ali ini hampir dapat dipastikan bahwa kegiatan pendidikan Islam mendapat hambatan dan gangguan walaupun tidak terhenti sama sekali. Khalifah Ali pada saat itu tidak sempat lagi memikirkan masalah pendidikan, karena seluruh perhatiannya ditumpahkan pada masalah keamanan dan kedamaian bagi masyarakat Islam. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendidikan pada zaman Khulafa al-Rasyidin belum berkembang seperti masa-masa sesudahnya. Pelaksanaannya tidak jauh berbeda dengan masa Nabi, yang menekankan pada pengajaran baca tulis dan ajaran-ajaran Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Hal ini disebabkan oleh konsentrasi umat Islam terhadap perluasan wilayah Islam dan terjadinya pergolakan politik, khususnya pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib.

D.    Analisis Data

Penulis meyakini bahwa perkembangan pendidikan di Indonesia diwarnai oleh konsep pendidikan Islam, yang mana berasal dari pola pendidikan Pelaksanaan pembinaan pendidikan Islam pada jaman Nabi dapat dibedakan menjadi dua tahap, baik dari segi waktu dan tempat penyelenggaraan, maupun dari segi isi dan materi pendidikannya, yaitu : (1) Tahap/fase Makkah, sebagai awal pembinaan pendidikan Islam, dengan Mekkah sebagai pusat kegiatannya, (2) Tahap/fase Madinah, sebagai fase lanjutan pembinaan/pendidikan Islam dengan Madinah sebagai pusat kegiatannya dan yang berkembang pada masa Khulafāur Rāsyidīn. Ada beberapa implikasi dari konsep pendidikan Islam pada periode Khulafāur Rāsyidīn tersebut terhadap pengembangan pendidikan Islam di Indonesia.

Pertama, semestinya pengembangan kurikulum pendidikan Islam di Indonesia mempertahankan urutan yang dicontohkan yaitu selain memulai dengan membaca, menulis dan berhitung, juga sangat menekankan kepada pembentukan Aqidah Tauhid dan Akhlak. Mengutamakan akhlak dan adab sebelum mempelajari ilmu yang lain[68] merupakan sebuah strategi utama dalam pendidikan Islam. Seiring dengan itu juga dilengkapi dengan pembiasaan Ibadah dan hidup sehat yang berbasis kepada adab dan akhlak. Kemudian dilanjutkan dengan bimbingan menghafal Al-Quran secara bertahap yang strategi pengajarannya disesuaikan dengan potensi kecerdasan yang dimiliki setiap peserta didik. Pada tahap berikutnya, untuk mendukung persiapan kegiatan pendalaman materi, maka dilakukan pengajaran bahasa arab dan berbagai ilmu dasar lainnya yang dapat membantu dalam pembelajaran pada tahap selanjutnya.

Kedua, melakukan penataan dan penguatan pendidikan anak usia pra sekolah dengan mengangkat guru-guru yang memiliki kualifikasi dan kompetensi yang tinggi, memberikan kesejahteraan yang sangat layak, dan mengembangkan sarana dan prasarana yang sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan anak dalam Islam, yaitu mengembangkan kecerdasan dan kemampuan berdasarkan potensi atau kadar setiap anak

Ketiga, pengembangan kurikulum pendidikan Islam juga harus memberikan perhatian yang besar terhadap pendidikan fisik diantaranya dengan mengadakan kegiatan latihan memanah, menunggang kuda dan latihan renang, serta seyogyanya pemerintah mengadakan perlombaan-perlombaan yang menfasilitasi ketiga kegiatan pendidikan fisik tersebut.

Keempat, sudah menjadi keharusan bagi pemerintah untuk memastikan bahwa guru-guru yang diangkat adalah guru yang memiliki adab dan akhlak yang mulia. Pemerintah juga memberikan perlindungan, perhatian dan bantuan agar para guru memiliki kesejahteraan yang sangat layak, serta memberikan fasilitas yang mempermudah para guru untuk meningkatkan kemampuan dalam menstransfer karakter dan ilmu.

Kelima, pemerataan distribusi guru dan sarana prasarana pendidikan yang berkualitas harus dilakukan dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing daerah. Di setiap daerah disediakan guru dan lembaga pendidikan yang memiliki kualitas dan fasilitas yang relatif sama, sehingga perkembangan pendidikan tidak hanya terpusat pada satu wilayah saja dan dapat menjangkau seluruh masyarakat.

Keenam, mewujudkan keamanan dan stabilitas politik, sehingga mendukung ketenangan dan perkembangan kegiatan pendidikan terutama pendidikan Islam di Indonesia. Seharusnya kegiatan pendidikan berada pada posisi netral, ilmiah dan tidak dikaitkan dengan berbagai kepentingan politik, sehingga situasi politik yang ada tidak mempengaruhi kegiatan pendidikan. Pemerintah seyogyanya menyiapkan sistem pendidikan nasional khususnya kurikulum yang arah pengembangannya jelas dan tetap menfasilitasi pendidikan agama khususnya agama Islam yang merupakan pondasi pendidikan karakter dan ilmu pengetahuan bangsa Indonesia.

Pengelola dan pengambil kebijakan pendidikan di Indonesia seharusnya berisikan para ahli pendidikan yang memahami karakter dan kebutuhan bangsa Indonesia khususnya umat Islam Indonesia, yang secara umum tidak bisa dipisahkan dengan pendidikan Islam yang merupakan pondasi utama umat Islam dalam mendidik karakter generasi berikutnya. Pemerintah seharusnya melakukan penguatan dan bantuan terhadap hal-hal yang masih kurang atau yang perlu ditingkatkan saja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB  IV

PENUTUP

A.    Kesimpulan

1.        Penyelenggaraan pendidikan pada masa Rasulullah tidak terlepas dari integrasi secara komprehensif berbagai kelengkapan pendidikan yaitu: metode, kurikulum/materi, evaluasi, peserta didik, lembaga, visi, misi, tujuan dan sasaran. Di masa Khulafaur-Rasyidin, tidak jauh berbeda dengan masa rasulullah yang menekankan pada pengajaran baca tulis dan materi tentang ajaran Islam yang bersumber pada Al-Qur‟an dan Hadis nabi.

2.        Secara umum, model pendidikan pada pemerintahan Abu Bakar Radhīyallāhu ‘anhu tidak banyak berbeda jika dibandingkan dengan masa kepemimpinan Nabi Muhammad Shallallāhu 'alaihi wa sallam. Kota Madinah masih menjadi kota pusat pendidikan, dan materi pendidikan yang dikembangkan adalah materi tauhid, akhlak, ibadah serta kesehatan. Materi tauhid masih menjadi pelajaran utama untuk memperkuat pemahaman masyarakat terhadap keIslaman. Pada masa ini, dilakukan pengumpulan ayat-ayat Al-Qur’an dengan cara mengumpulkan hafalan dari para penghafal Al-Qur’an, dan tulisan ayat-ayat Al-Qur’an. Hafalan tersebut dituliskan diatas pelepah kurma dan kulit binatang dan kemudian disimpan oleh para Sahabat Nabi yang telah terpercaya. Tahap berikutnya, dipilih beberapa orang untuk menjadi tim yang bertugas menyalin tulisan ke dalam lembaran-lembaran untuk menjaga kemurnian ayat-ayat Al-Qur’an.

Pendidikan Islam pada masa Khalifah Umar bin Khatab radhīyallāhu ‘anhu mengalami perkembangan yang sangat pesat. Pada masa ini, panglima-panglima perang diminta untuk membangun masjid-masjid di setiap wilayah yang dikuasainya. Masjid tersebut berfungsi sebagai tempat ibadah dan sekaligus juga tempat pendidikan. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga pengajar, diangkat guru-guru yang kemudian ditempatkan di berbagai daerah. Para guru tersebut diberi gaji dan hadiah berdasarkan prestasi yang dilakukan. Dana untuk gaji dan hadiah tersebut diambil dari baitul mal. Pada masa ini, pola pendidikan anak sudah mulai tertata. Pada akhirnya, Madinah tumbuh menjadi kota sumber ilmu. Karena adanya kebijakan Khalifah yang tidak memperbolehkan para sahabat senior untuk keluar Kota Madinah, tingkat mobilitas para penuntut ilmu yang datang ke Madinah semakin meningkat dari waktu ke waktu. Para sahabat senior hanya diperbolehkan keluar kota pada saat ada kepentingan mendesak. Kebijakan ini dicanangkan karena pertimbangan karena kebutuhan akan tenaga dan pikiran para sahabat senior secara penuh di bidang pendidikan Islam. Hal ini justru memancing kaum muslimin yang bersemangat menuntut Ilmu untuk berbondong-bondong mendatangi Madinah, termasuk kaum Mawāli yang dibawa oleh para sahabat yang berasal dari negeri-negeri yang baru masuk Islam.

Pada masa Khalifah Utsman bin Affan radhīyallāhu ‘anhu, tidak terjadi banyak perubahan pola pendidikan Islam. Dari sisi kelembagaan juga tidak ada perubahan dari masa sebelumnya. Namun demikian, perubahan yang cukup fundamental terjadi dari sisi kebijakan dan metode, yaitu pada sistem pengangkatan guru dan aturan pelarangan sahabat senior untuk meninggalkan Madinah. Pada masa ini, pemerintah tidak mengangkat guru-guru sehingga para pendidik tidak lagi mendapatkan upah. Para sahabat senior dapat secara leluasa meninggalkan Madinah dan menetap di daerah lain. Hal ini menyebabkan para penuntut ilmu tidak lagi hanya terfokus ke Madinah. Selain itu, pada masa ini mulai dilakukan pengelompokkan obyek pendidikan Islam dan juga dilakukan Kodifikasi Mushaf Al-Qur’an sehingga dihasilkan sebuah Mushaf Al-Imam atau Mushaf Utsmani yang mempersatukan umat Islam. Mushaf ini pula yang membuat umat Islam menjadi lebih mudah dalam mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an.

Perkembangan pendidikan Islam pada kepemimpinan Khalifah Ali bin Abi Thalib radhīyallāhu ‘anhu cukup stagnan karena Khalifah lebih berfokus pada masalah kedamaian dan keamanan masyarakat Islam yang banyak mengalami pergolakan pada saat kepemimpinannya itu.

B.     Saran

Berdasarkan pada kesimpulan di atsa maka peneliti dapat memberikan saran sebagai berikut:

1.             Rasulullah SAW dan Khulafa Al-Rasyidin yang memperjuangkan  pendidikan Islam dan harus dibangun di atas pondasi yang kuat.

2.             Bagi lembaga-lembaga pendidikan keagamaan maupun sekolah umum lebih dapat menciptakan peserta didik yang mempunyai kompetensi menghadapi berbagai tantangan di era global, perlu memperbaharui kembali sistem pendidikan yang sudah ada.

3.             Bagi para pendidik dan orang-orang yang berkiprah di dunia muslim harus memiliki komitmen yang tinggi dan sifat-sifat terpuji sebagai wujud kompetensi kepribadian di samping kompetensi akademis dan kompetensi sosial dan para didik juga harus memilki komitmen yang kuat dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran yang dilakukan. Dengan demikian diharapkan lembaga pendidikan Islam kembali dapat melahirkan manusia yang paripurna, unggul ilmiahnya, unggul amaliyahnya, dan unggul akhlaknya.

                 

 

 

 

   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Abdullah Idi dan Toto Suharto, Revitalisasi Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006).

Abuddin Nata, H., Pendidikan Islam Perspektif Hadits. (Ciputat: UIN Jakarta Press, 2005).

Abuddin Nata.Metodologi Studi Islam. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2009.

Achmadi.Ideologi Pendidikan Islam: Paradigma Humanisme Teosentris.Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.

Ahmad D. Marimba.Pengantar Filsafat Pendidikan Islam.Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1989.

Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada),2004

Anna Fatiha.Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Surat Al-Fatihah. Skripsi. Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, 2005

Anton Baker dan Ahmad Chainus Zubair.Metodologi Penelitian Filsafat.Yogyakarta: Kanisius, 1994.

Arifin, H.M., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991).

Armai Arief, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam Klasik, (Bandung: Penerbit Angkasa, 2005).

Azyumardi Azra.Sejarah Ulumul Qur’an. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003. cet. 2.

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam - Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: Rajawali Pers), 2011.

Chabib Thoha.Kapita Selekta Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1996.

Daradjat, Zakiyah, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996).

Fathiyyah Hasan Sulaiman. AlamPikiran al-GhazalimengenaiPendidikan dan Ilmu. Bandung: CV. Diponegoro, 1986

Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1997).

Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975).

Hasan Asari, Menyingkap Zaman Keemasan Islam, (Bandung: Mizan, 1994).

Hujair AH. Sanaky. Paradigma Pendidikan Islam: Membangun Masyarakat Madani Indonesia.Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2003.

Jalaluddin Rahmat.Tafsir Sufi al-Fatihah.Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000.

Jalaluddin.Teologi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003.

Joesoef, Sejarah Daulah Khulafaur Rasiddin, (Medan: Bulan Bintang), 1979.

Kadar M. Yusuf.Tafsir Ayat Ahkam; Tafsir Tematik Ayat-ayat Hukum. Jakarta: Azam, 2011.

Langgulung, Hasan, Pendidikan Islam Menghadapi Abad ke-21, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1988).

Lexy J Moleong.Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: RemajaRosdakarya, 2005. Edisi Revisi.

M. Arifin.Ilmu Pendidikan Islam: Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner. Jakarta: Bumi Aksara, 2003. 71

Makdisi, Geoge, dalam The Rise of Colleges Institutions of Learning in Islam and West, (Eidenburgh: Eidenburgh University Press, 1981).

Mehdi Nakosteen, Konstribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat: Deskripsi Analisis Abad Keemasan Islam, alih bahasa Joko S. Kahhar dan Supriyanto, (Surabaya: Risalah Gusti, 1995).

Moh. Untung Slamet, Muhammad Sang Pendidik, (Semarang: Pustaka Rizki Putera, 2005).

Muhaimin dan Abdul Mujib.Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung: Trigenda Karya, 1993.

Muhammad RasyidRidha.Tafsir Surat al-Fatihah; Menemukan Hakikat Ibadah.terj. Bandung: Mizan, 2005.

Mukti Ali. dkk..al-Qur’an dan Tafsirnya.Jilid I. Jakarta: Departemen Agama RI, 1983/1984.

Munawar Cholil, Kelengkaan Tarikh Nabi Muhammad Saw, (Jakarta: Bulan Bintang, 1969).

Nasution, S., Asas-asas Kurikulum, (Jakarta: Bumi Aksara,1994).

Ngalim Purwanto.Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung; Remaja Rosda, 2000.

Oemar Hamalik.Proses Belajar Mengajar.Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2001.

Omar Mohammad Al-Toumy A-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, (Terj.Hassan Langgulung), (Jakarta: Bulan Bintang, 1984).

Ramayulis, H., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2006).

Ramayulis.Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia, 1994. Cet. 1.

Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah, 2009

Samsul Nizar, Dr., Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 1997. Soekarno, Drs., Sejarah Dan Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Angkasa, 1983)

Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Era Rasulullah Sampai Indonesia. (Jakarta: Kencana, 2007).

Sayyid Quthub, Konsepsi Sejarah Dalam Islam, terj. Nabhan Husein, (Jakarta: Al-Amin, tt, h).

Soekarno dan Ahmad Supardi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Angkasa),1985

Sugiyono.Metode Penelitian Kuntitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2011

Suharsimi Arikunto.Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka, 2006.

Sutrisno Hadi.Metodologi Research. Jilid I. Yogyakarta: Andi Offset, 2001.

Syalabi, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Husna),1990

W.JS. Purwadarminta.Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka, 1999.

Winarno Surakhmad.Pengantar Penelitian Ilmiah.Bandung: Tarsito, 1990.

Yunus, Mahmud, H., Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, Persada, 2008).

Zakiah Darajat.Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: PT Bumi Aksara, 2000. cet 4.

 



[1] Hujair AH. Sanaky. 2003. Paradigma Pendidikan Islam: Membangun Masyarakat Madani Indonesia. Yogyakarta: Safiria Insania Press. h. 2-7

[2]  M. Arifin, Ilmu Pendidikan, h. 33 

[3] Wasis Setiyono. 2011. Studi Relevansi Pemikiran Muhammad Quthb dengan Pemikiran Al-Ghazali tentang Tujuan Pendidikan Islam. STAIN: Ponorogo   

[4] Suhanik Tri Astuti. 2006.Tujuan Pendidikan Islam menurut Al-Ghazali”. STAIN: Ponorogo  

[5] Sutrisno Hadi. 2001. Metodologi Research, Jilid I, Yogyakarta: Andi Offset. h. 9 

[6] Lexy J Moleong, 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: RemajaRosdakarya, Edisi Revisi, h.4. 

[7] Sugiyono, 2011.Metode Penelitian Kuntitatif Kualitatif dan R&D, Bandung: Alfabeta,  h.9

[8] Ibid, h. 93 

[9] bid, h . 93  

[10] Suharsimi Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: PT. Rineka, h. 135 

[11] Zuhairi, et.al.2016. Pedoman Penulisan karya Ilmiah, Jakarta: Rajawali Pers. h. 40 

[12] Aan Komariah dan Djam’an Satori.2014. Metodologi Penelitian. Bandung:Alfabeta. h. 170. 

[13] Ibid., h. 171. 

[14] Sugiyono,.2009.Metode Penelitian. Bandung: Alfabeta. h. 338-341. 

[15] Ibid., h. 341. 

[16] Aan Komariah, dan Djam’an Satori. 2013.Metodologi Penelitian. Bandung:Alfabeta. h. 220. 

[17] Yunus Muhammad. 1992.Bank Kaum Miskin. Jakarta:Universitas Terbuka. Hal 6

[18] Zuhairini. 2008. Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.Jakarta: PT Bumi Aksara. Hal 28

[19] Yunus Muhammad. 1992. Pendidikan Agama Islam. Jakarta: CV RajaWali. hal. 16

[20] Husen Usman. 2008.Dimensi-Dimensi Pendidikan Islam.Jakarta: Bumi Aksara. hal. 24

[21] Arief Armai. 2005.Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Sejarah Klasik. Bandung: Angkasa. hal. 135-136

[22] Nugraha. 2019. Sejarah Ilmu. hal. 23

[23] As-Suyuti.2017.Pengan Sistem Munafaktur.Jakarta: Al-Fikar. hal. 56

[24] Al-Quraibi. 2009. Wawasan Al-Quran. Jakarta: Kencana. hal. 75

[25] As-Suyuti.2017. Asbabun Nuzul. Jakarta:Al-Fikar. hal. 36

[26] Aminah. 2015.Media Pembangunan dan Dakwah Pembangunan. Yohyakarta Pustaka Belajar. hal. 73

[27] Ulwan. 2017.Pendidikan Anak dalam Islam. Jakarta: Al-Fikar. hal.48

[28] Saufi, Fadillah. 2015. Sejarah Peradaban Islam. Jakrta: Bumi Aksara. hal.55

[29] Yatim. 2017. Sejarah Peradaban Islam. Yogyakarta: PT Logos Wacana Ilmu.hal.63

[30]  Aizid.2018.Sejarah Peradaban Dunia. Jakarta: PT Bumi Aksara: hal.74

[31] Syaikuhudin. 2012.Kreativitas Guru dalam Membuat Media.Yogyakarta: Pustaka Belajar.hal.46

[32] Badwi,Al-Rasyidin. 2017.Perkembangan Pendidikan Islam Periode Al-Khulafa Al-Rasyidin. Bandung: Cipta Pustaka: hal.84

[33] Zuhairini, dkk.2008. Sejarah Pendidikan Islam.Jakarta: Bumi Aksara, Cet. ke-9. h. 14-18 

[34] QS. Al-„Alaq: 1-5) 

[35] Hanun Asrohah.1997.Sejarah Pendidikan Islam.Jakarta: Bumi Aksara, 1997. h. 12. (Surat al-Mudatssir yang artinya: “Hai orang yang berselimut, bangunlah lalu berilah peringatan dan Tuhanmu, agungkanlah dan pakaianmu, bersihkanlah dan perbuatan dosa, tinggalkanlah. Dan jangan kamu memberi (dengan maksud) memperoleh balasan yang lebih banyak. Dan untuk memenuhi perintah Tuhanmu, bersabarlah”. 

[36] Setelah turun ayat ini Rasulullah SAW. mulai mengajar para sahabatnya, hingga jumlah mereka yang belajar selama kurun waktu tiga tahun setelah kenabian sebanyak: 53 orang. Terdiri dari laki-laki: 43 dan wanita 10 orang. Nabi bersama mereka yang beriman belajar bertempat di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqom.

[37] H. Mahmud Yunus.2008. Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. h. 6 

[38] Zuhairini, dkk., Sejarah Pendidikan Islam, h. 28 

[39] H. Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, h. 26 

[40] Zuhairini, dkk., Sejarah Pendidikan Islam, h. 37  

[41] H. Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, h. 16 

[42] Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibany,1984. Falsafah Pendidikan Islam, Terj. Hasan Langgulung, Jakarta: Bulan Bintang. h. 478

[43] Zakiyah Daradjat, dkk.1996. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, Cet. ke-3, h.122  

[44] H.M. Arifin.1991. Ilmu Pendidikan Islam,Jakarta: Bumi Aksara, h. 183 

[45] Nasution, 1994.Asas-asas Kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara,, Cet. ke-1, h. 5-9oleh pihak sekolah yang bukan hanya

[46] H. Ramayulis, 2006.Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, h. Cet.ke-5, h. 152 

[47]H. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, h. 152

[48] Armai Arief, 2005.Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam Klasik, Bandung: Penerbit Angkasa, h. 135.  

[49] Ashabus shuffah adalah orang-orang (sahabat) yang belajar di sudut-sudut masjid atau bilik-bilik yang berhubungan langsung dengan masjid, yang selanjutnya disebut shuffah.  

[50] Moh. Untung Slamet.2005. Muhammad Sang Pendidik, Semarang: Pustaka Rizki Putera, h. 44 

[51]Masjid pada masa permulaan Islam mempunyai fungsi yang jauh lebih bervariasi dibandingkan dengan fungsinya sekarang, karena selain mempunyai fungsi utama sebagai tempat pembinaan ketaqwaan dan beribadah, pembangunan masjid di Madinah oleh Nabi SAW. juga difungsikan sebagai tempat belajar. Di masjid pula nabi menyediakan tempat khusus bagi para sahabat beliau yang miskin yang kemudian dikenal dengan ahl- Shuffah. Mereka tinggal dan menetap di emperan masjid yang difungsikan sebagai “sekolah” untuk belajar membaca dan memahami agama. Di sana pula mereka mempelajari al-Quran kemudian melakukan rihlah (perjalanan ilmiah) ke seluruh penjuru dunia untuk mengajarkan al-Quran kepada umat manusia.

[52] Hasan Asari, 1994. Menyingkap Zaman Keemasan Islam, Bandung: Mizan,h. 24. (Materi yang diajarkan di kuttab periode Madinah ini tidak jauh berbeda dengan yang diajarkan di Mekkah. Pelajaran baca-tulis menjadi materi pokok bagi pelajar yang ada di kuttab. Materi baca-tulis ini berkisar pada puisi dan pepatah-pepatah arab. Pelajaran membaca al-Quran tidak diberikan di kuttab, tetapi di Masjid dan di rumah-rumah. Namun begitu, seiring berjalannya waktu, maka al-Quran juga diajarkan di kuttab. 

[53]H. Abuddin Nata, 2005. Pendidikan Islam Perspektif Hadis, Ciputat, UIN Jakarta Press, h. 24   

[54] Hal ini senada dengan pendapatnya Goege Makdisi dalam The Rise of Colleges Institutions of Learning in Islam and West, (Eidenburgh University Press, 1981), h.21 

[55] M. Zainuddin, Paradigma Pendidikan Islam Holistik, (Jurnal: Ulumuna, Vol. XV, Nomor 1 Juni 2011). Lihat dalam http://www.iainmataram.ac.id. (Untuk mewujudkan pendidikan yang holistik wilayah pertama yang perlu direformasi adalah visi atau kerangka konseptual pendidikan secara menyeluruh. Pendidikan bermula dari prinsip tauhid (keutuhan dan keterpusatan pada Tuhan). Hal inilah yang menjadi dasar pijakan dalam pandangan dunia pendidikan. Prinsip tauhid mencakup konsep filosofis maupun metodologis yang terstruktur dan koheren terhadap pemahaman kita terhadap dunia dan seluruh aspek kehidupan. Tauhid mengajarkabn kita untuk menghimpun pandangan holistic, terpadu dan komprehensif terhadap pendidikan.

 

[56] Samsul Nizar. 2009. Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, h.47 

[57] Masa Umar inilah awal mula terbentuknya guru melalui pengangkatan oleh khalifah. Mereka juga digaji oleh Bendahara Negara (Baitul mal). 

[58] Samsul Nizar,h.48 

[59] Soekarno, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Angkasa, 1983), h. 60 

[60] Soekarno,h. 50  

[61] Soekarno,h. 51  

[62] Asrohah. 2017.Sejarah Pendidikan Islam.Jakarta: Logos Wacana Ilmu.hal.56

[63] Dalimunthe.1998.Prosedur Penelitian Suatau Pendetan Praktis. Jakarta:Bina Aksara.hal.43

[64] Muir.1984.Kehidupan Bersama Alam.Bandung: Aksara.hal,203

[65] Shaban.1971.Sejarah Islam.Jakarta: Bumi Aksara.hal.62

[66] Supardi.1985.Lingkungan Hidup dan Kelsetariaanya. Yogyakarta: Al-Fakir.hal.93

[67] Amin. 1987.Motivasi dan Intraksi Belajar Mengajar.Jakarta: Rajawali.hal.44

[68] Az-Zarmuji. 2019. Ta’lim wa Muta’alim. Jakarta: Al-Fakir.hal.34

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengembangan Instrumen

Psikologi Islam